Ketika Media Sosial Membuat Identitas Mengalahkan Karakter

Dulu, manusia hidup dalam banyak ruang sosial yang berbeda. Di rumah kita punya aturan sendiri, di tempat kerja ada aturan lain, di tempat ibadah ada norma yang berbeda lagi, begitu juga ketika berada di lingkungan pertemanan. Agnes Callard menggambarkan kondisi ini sebagai dunia yang memiliki banyak konteks. Namun internet, media sosial, dan teknologi perlahan meruntuhkan batas-batas tersebut. Semua ruang seperti melebur menjadi satu ruang publik besar yang dapat dilihat siapa saja. Kondisi inilah yang disebut unicontext, yaitu ketika manusia hidup dalam satu konteks sosial yang semakin seragam dan terbuka.
Masalahnya, perubahan ini ikut mengubah cara kita menilai manusia. Karakter sebenarnya tidak bisa diketahui hanya dari satu foto, satu unggahan, atau satu kalimat. Kita perlu melihat seseorang dalam banyak situasi: bagaimana dia bersikap ketika punya kekuasaan, ketika marah, ketika gagal, ketika membantu orang lain, atau ketika tidak ada orang yang melihatnya. Keberanian, kejujuran, kemurahan hati, dan tanggung jawab baru terlihat melalui pengalaman panjang. Tetapi di dunia unicontext, kita sering tidak punya waktu dan konteks sebanyak itu. Akhirnya kita memilih sesuatu yang lebih cepat dibaca, yaitu identitas: agama, gender, etnis, profesi, kelompok sosial, ideologi, atau afiliasi tertentu. Identitas menjadi semacam “label instan” yang lebih mudah dipahami dibanding karakter yang jauh lebih kompleks.
Akibatnya, ruang publik modern semakin sering menilai seseorang bukan dari siapa dia melalui tindakannya, tetapi dari kelompok mana dia dianggap berasal. Etika pun bergeser. Jika virtue ethics Aristoteles menekankan pembentukan manusia yang baik melalui karakter, dunia unicontext lebih banyak berbicara tentang aturan universal, inklusivitas, keamanan, representasi, dan perlindungan identitas. Kita mungkin semakin sulit sepakat tentang apa yang disebut “manusia baik”, tetapi jauh lebih mudah sepakat tentang siapa atau apa yang dianggap berbahaya, ofensif, atau bermasalah. Di sinilah ironi kehidupan digital muncul: kita memiliki akses terhadap informasi tentang manusia lebih banyak daripada generasi sebelumnya, tetapi justru semakin sering memahami manusia melalui label yang lebih sederhana. Dunia menjadi semakin terbuka, sementara cara kita membaca manusia justru bisa semakin dangkal.



