numa
Myflipbookpro
Sosial & Politik

Korupsi Ada karena Budaya atau Sistem?

MMentari SenjaSider - 27 postingansekitar 4 jam yang laluDiperbarui sekitar 4 jam yang lalu
Korupsi Ada karena Budaya atau Sistem?

Korupsi sering kali dijelaskan sebagai persoalan moral. Pelakunya dianggap serakah, tidak punya integritas, atau terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya. Solusinya pun terdengar sederhana: perbaiki karakter, tanamkan kejujuran, dan bangun budaya antikorupsi.

Namun, jika korupsi terus berulang meskipun pelakunya berganti, apakah persoalannya benar-benar hanya terletak pada individu?

Budaya memang dapat memengaruhi perilaku seseorang. Ketika pemberian uang pelicin dianggap lumrah, nepotisme dimaklumi sebagai bentuk solidaritas, atau penyalahgunaan jabatan dibiarkan demi kepentingan kelompok, batas antara yang benar dan yang salah perlahan menjadi kabur. Sesuatu yang seharusnya dipersoalkan justru bisa dianggap sebagai bagian dari kebiasaan.

Tetapi budaya tidak tumbuh di ruang kosong. Ia juga dibentuk oleh lingkungan dan sistem yang mengatur perilaku manusia. Ketika pengawasan lemah, transparansi terbatas, konflik kepentingan tidak ditangani, dan hukuman tidak memberikan efek jera, peluang untuk melakukan korupsi semakin terbuka.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Orang yang tidak berintegritas bisa memanfaatkan sistem yang lemah, sementara sistem yang buruk dapat membuat praktik menyimpang terus bertahan, bahkan ketika orang-orang di dalamnya berganti.

Karena itu, menyalahkan budaya semata berisiko mengabaikan tanggung jawab lembaga dan pemegang kekuasaan. Sebaliknya, memperbaiki sistem tanpa membangun integritas juga tidak cukup. Aturan yang baik tetap membutuhkan orang-orang yang bersedia menjalankannya, sedangkan niat baik membutuhkan mekanisme pengawasan agar tidak berhenti sebagai janji.

Pemberantasan korupsi pada akhirnya tidak cukup dilakukan melalui slogan tentang kejujuran atau penindakan terhadap pelaku satu per satu. Ia membutuhkan transparansi, pengawasan independen, penegakan hukum yang konsisten, perlindungan bagi pelapor, serta perubahan kebiasaan yang selama ini menormalisasi penyimpangan.

Sebab, korupsi bukan hanya soal siapa yang mengambil uang, tetapi juga tentang bagaimana ia bisa melakukannya, mengapa ia merasa bisa lolos, dan mengapa praktik serupa terus berulang.

Jika orangnya terus berganti tetapi korupsinya tetap terjadi, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya siapa yang salah, tetapi juga sistem seperti apa yang membuat kesalahan itu terus menemukan jalannya.

#sosialpolitik #sosial-politik

#sosialpolitik#sosial-politik
00
M

Balasan (0)

Topik Terkait