numa
Sosial & Politik

Pencak Dor: Tradisi Bertarung yang Mengajarkan Persaudaraan

Rio ChanRio ChanSider - 32 postingansekitar 5 jam yang laluDiperbarui sekitar 5 jam yang lalu

Di zaman ketika perbedaan sering membuat orang saling bermusuhan, ada sebuah tradisi yang justru mengajarkan hal sebaliknya: orang boleh bertarung, tetapi tidak harus menjadi musuh.

Itulah Pencak Dor.

Di arena, dua orang saling berhadapan. Pukulan dan tendangan menjadi bagian dari pertarungan. Tetapi ketika pertarungan selesai, hubungan tidak ikut berakhir. Lawan di arena kembali menjadi kawan di luar arena.

Tradisi yang tumbuh di lingkungan pesantren Kediri, Jawa Timur, ini memiliki filosofi yang sederhana tetapi dalam: “di atas lawan, di bawah kawan.” Pertarungan menjadi ruang untuk menguji keberanian dan kemampuan, bukan tempat untuk menanam dendam. (ejournal.unesa.ac.id)

Di sinilah Pencak Dor menjadi lebih dari sekadar tontonan bela diri.

Ia mengajarkan sebuah batas yang semakin sulit ditemukan: batas antara persaingan dan permusuhan.

Kita boleh berbeda. Kita boleh berkompetisi. Bahkan kita boleh saling mengalahkan. Tetapi semua itu tidak harus menghapus rasa hormat kepada orang yang berada di seberang kita.

Nilai semacam ini membuat Pencak Dor tetap menarik untuk dikenali di tengah perubahan zaman. Sebab yang diwariskan bukan hanya teknik bertarung, tetapi juga cara menerima kekalahan, menghormati lawan, dan kembali menjadi saudara setelah pertandingan berakhir.

Mungkin itulah pelajaran paling penting dari Pencak Dor:

Tidak semua pertarungan harus melahirkan permusuhan.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang jatuh di arena.

Melainkan apakah setelah keluar dari arena, kita masih bisa berjabat tangan.


00
Rio Chan

Balasan (0)

Topik Terkait