Tren Lari Gen Z: Gaya Hidup atau Sekadar FOMO?
Dulu, lari mungkin cukup dilakukan dengan sepatu olahraga dan niat untuk berkeringat. Sekarang, lari punya running club, race event, Strava, running outfit, sampai konten long run di media sosial.
Lari bukan lagi sekadar olahraga. Ia mulai menjadi bagian dari gaya hidup—dan tentu saja, sesuatu yang sedang ramai selalu membawa satu pertanyaan: kita benar-benar ingin ikut, atau hanya takut ketinggalan?
Di kalangan Gen Z, semakin banyak yang mulai berlari. Ada yang mengejar kesehatan, mencari komunitas, menguji kemampuan diri, atau sekadar ingin punya aktivitas baru. Tapi ada juga yang mungkin awalnya ikut karena melihat teman-temannya berlari dan merasa harus ikut merasakan hal yang sama.
Di situlah FOMO atau fear of missing out menjadi menarik.
Ketika sebuah aktivitas berubah menjadi tren, batas antara “saya memang suka” dan “saya tidak mau ketinggalan” bisa menjadi tipis.
Namun, apakah semua Gen Z yang mulai lari berarti sedang FOMO?
Tentu tidak.
Sebuah tren justru bisa menjadi pintu masuk menuju kebiasaan yang lebih permanen. Seseorang mungkin awalnya ikut running club karena penasaran, tetapi kemudian menemukan manfaat kesehatan, rutinitas, bahkan komunitas yang membuatnya terus berlari.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah Gen Z berlari karena FOMO.
Tetapi ketika sebuah aktivitas menjadi tren, apakah kita masih melakukannya karena pilihan sendiri—atau karena semua orang sedang melakukannya?
#sporte-sport #sport



