Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Sains & Tech

Diskusi sains, teknologi, riset, dan cara pandang ilmiah.

Sains & Tech

“Kesurupan: Antara Doa, Sugesti, dan Otak”

Kesurupan bukanlah fenomena baru. Di berbagai masyarakat, termasuk Indonesia, pengalaman seperti kehilangan kendali atas tubuh, berbicara dengan suara berbeda, atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa sering dikaitkan dengan masuknya makhluk atau kekuatan gaib. Namun dari sudut pandang sains, pertanyaannya menjadi berbeda: Apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan kesadaran manusia ketika seseorang mengalami kesurupan? Ketika Kesadaran Berubah Otak manusia memiliki peran besar dalam mengatur kesadaran, emosi, ingatan, dan perilaku. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami perubahan kesadaran atau rasa kehilangan kendali terhadap dirinya. Dalam psikologi, salah satu konsep yang berkaitan adalah disosiasi. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa terpisah dari dirinya sendiri, mengalami perubahan persepsi, atau melakukan sesuatu yang kemudian sulit ia ingat. Stres berat, ketakutan, sugesti, lingkungan, dan tekanan emosional juga dapat memengaruhi kondisi tersebut. Bukan berarti semua kasus yang disebut kesurupan memiliki penyebab yang sama. Beberapa pengalaman bahkan dapat berkaitan dengan kondisi medis atau psikologis yang membutuhkan penanganan profesional. Lalu, Apa Peran Doa? Doa bukan sekadar kata-kata. Suara, intonasi, ritme, suasana, perhatian orang lain, dan keyakinan dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Karena itu, ketika seseorang menjadi tenang setelah didoakan, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa kekuatan spiritual tertentu telah mengusir sesuatu dari tubuhnya. Namun, sains juga tidak perlu mengabaikan pengalaman tersebut. Yang dapat dilakukan adalah mengamati perubahan yang terjadi dan mencari kemungkinan mekanismenya. Bagaimana Jika Doanya dari Agama Berbeda? Pertanyaannya menjadi semakin menarik jika seseorang justru menjadi tenang setelah mendengar doa dari agama berbeda. Apakah yang berperan adalah kekuatan spiritual? Keyakinan orang tersebut? Atau respons otak terhadap suara, ritme, sugesti, dan suasana di sekitarnya? Bahkan jika seseorang lebih tenang setelah mendengar doa dari agamanya sendiri, hal itu belum otomatis membuktikan bahwa doa tersebut memiliki kekuatan spiritual yang lebih besar. Keyakinan, pengalaman pribadi, ekspektasi, kondisi psikologis, dan lingkungan sosial semuanya dapat memengaruhi respons seseorang. Di sinilah sains tidak terburu-buru memberikan jawaban, melainkan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bisakah Sains Mengujinya? Secara prinsip, pertanyaan tersebut dapat diteliti tanpa sengaja membuat seseorang mengalami kesurupan. Peneliti dapat membandingkan respons seseorang terhadap doa dari agama sendiri, doa dari agama berbeda, bacaan nonreligius, atau kondisi tanpa bacaan. Kemudian diamati perubahan yang dapat diukur, seperti tingkat kecemasan, denyut jantung, respons fisiologis, dan kondisi emosional. Namun hasilnya tetap harus ditafsirkan dengan hati-hati. Jika seseorang menjadi tenang setelah mendengar doa dari agama berbeda, hal tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa doa tersebut memiliki kekuatan spiritual tertentu. Sebaliknya, jika tidak terjadi perubahan, itu juga tidak otomatis membuktikan bahwa pengalaman spiritual seseorang tidak memiliki makna. Di Antara Sains dan Keyakinan Sains berusaha menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi. Sementara keyakinan sering berusaha menjawab apa maknanya bagi manusia. Keduanya tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua kubu yang saling bertentangan. Mungkin karena itu, pertanyaan tentang kesurupan tidak cukup hanya dijawab dengan “itu roh” atau “itu hanya otak”. Masih ada banyak faktor yang perlu dipahami: kesadaran, psikologi, budaya, sugesti, lingkungan, dan tentu saja keyakinan manusia itu sendiri. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan: “Apakah kesurupan itu benar-benar ada?” Melainkan: “Apa yang terjadi pada manusia ketika kesadarannya berubah hingga ia merasa bukan dirinya sendiri?” Dan ketika doa dari agama berbeda mampu membuat seseorang menjadi tenang, kita kembali pada pertanyaan yang belum sederhana jawabannya. Apakah yang bekerja adalah kekuatan spiritual, keyakinan, atau respons otak terhadap ritual dan sugesti? Mungkin sains belum memiliki semua jawabannya. Tetapi justru di situlah menariknya memandang kesurupan dari mata sains. #sainstech #sains-tech

PPeter Parker5 hari yang lalu0
1
Sains & Tech

Ketika “Ramah Lingkungan” Tidak Sesederhana yang Kita Kira

Kita diberitahu bahwa mobil listrik adalah kendaraan masa depan. Tidak ada asap knalpot, tidak ada suara mesin, lebih bersih. Masalahnya, mobil listrik mungkin tidak benar-benar menghilangkan kerusakan lingkungan. Kita hanya memindahkannya ke tempat yang tidak kita lihat. Sebelum sebuah mobil listrik melaju tanpa asap di jalan raya, baterainya membutuhkan lithium, nikel, kobalt, grafit, dan berbagai mineral lainnya. Semua itu harus ditambang. Tanah harus dibuka. Energi digunakan. Material diproses. Baterai kemudian diproduksi dan akhirnya dipasang ke kendaraan. Jadi, kita bisa saja melihat mobil listrik melaju dengan tenang tanpa asap sambil merasa sedang menyelamatkan bumi. Sementara kerusakannya mungkin sedang terjadi ribuan kilometer dari tempat kita berkendara. Tapi apakah itu berarti mobil bensin lebih baik? Tentu tidak, minyak juga harus dicari, diekstraksi, dimurnikan, diangkut, lalu dibakar berulang kali selama mobil digunakan. Hybrid pun bukan jalan keluar yang sempurna. Ia menggabungkan mesin bensin dan sistem listrik sekaligus.Tiga teknologi, tiga jenis jejak lingkungan. Dan di sinilah kita sering terjebak. Kita ingin mencari satu kendaraan yang bisa disebut “ramah lingkungan.” Padahal mungkin kendaraan seperti itu tidak pernah benar-benar ada. Yang ada hanyalah kendaraan dengan dampak yang berbeda. Ketika seluruh siklus hidup diperhitungkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mobil listrik pada umumnya menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih rendah dibanding mobil bensin, meskipun proses produksinya—terutama baterai—memiliki beban lingkungan yang lebih besar. Jadi, mengatakan “mobil listrik menyelamatkan bumi” terlalu naif. Tetapi mengatakan “mobil listrik adalah kendaraan paling merusak alam” juga tidak tepat. Pertanyaan yang lebih mengganggu justru: Apakah kita benar-benar sedang mengurangi kerusakan, atau hanya membuat kerusakannya lebih jauh dari pandangan kita? Mungkin masa depan bukan tentang menemukan mobil yang benar-benar hijau. Mungkin masa depan adalah tentang membuat mobil yang lebih sedikit merusak, lebih lama digunakan, lebih mudah diperbaiki, dan lebih banyak komponennya dapat didaur ulang. Karena pada akhirnya, menjadi lebih ramah lingkungan bukan berarti bebas dari dampak terhadap alam.

MMentari Senja5 hari yang lalu0
1
Sains & Tech

Dokter Punya Bukti. Tabib Punya Pengalaman. Siapa yang Lebih Mengenal Tubuh Kita?

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin terdengar sepele: Apa yang membuat sesuatu bisa disebut ilmu? Apakah harus ada laboratorium? Harus ada penelitian? Harus bisa diukur, diuji, dan dibuktikan berulang kali? Jika jawabannya iya, bagaimana dengan pengetahuan manusia yang sudah digunakan selama ratusan bahkan ribuan tahun sebelum laboratorium modern lahir? Di sinilah perdebatan antara dokter dan tabib menjadi menarik. Dokter Punya Bukti Seorang dokter modern bekerja dengan ilmu yang terus diuji. Ketika seseorang sakit, dokter tidak cukup hanya mengatakan: “Saya pernah melihat penyakit seperti ini sebelumnya.” Ia mencari penyebabnya. Memeriksa darah. Melakukan pencitraan. Melihat gejala. Menganalisis hasil laboratorium. Kemudian memilih terapi berdasarkan penelitian dan bukti yang tersedia. Keunggulan kedokteran modern bukan hanya pada teknologinya. Tetapi pada metodenya, sebuah obat tidak dianggap efektif hanya karena beberapa orang merasa sembuh setelah menggunakannya. Obat harus diuji. Efeknya harus dibandingkan. Dosisnya harus dipelajari. Efek sampingnya harus diketahui. Dan hasilnya harus dapat diuji kembali oleh peneliti lain. Dengan cara inilah pengalaman manusia perlahan berubah menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tapi Tabib Punya Pengalaman Sekarang bayangkan seorang tabib pada ratusan tahun lalu. Ia tidak memiliki MRI. Tidak memiliki CT Scan. Tidak memiliki laboratorium. Tidak memiliki jurnal medis. Tetapi ia menghabiskan puluhan tahun mempelajari tubuh manusia. Ia mengenal tanaman di sekitarnya. Ia mengetahui bagaimana membuat ramuan. Ia mengamati perubahan tubuh seseorang. Ia belajar dari gurunya. Kemudian mengajarkan pengetahuan tersebut kepada generasi berikutnya. Pengetahuan itu mungkin tidak ditulis menggunakan istilah biologi modern.Tetapi bukan berarti semuanya muncul begitu saja. Sebagian merupakan hasil dari pengamatan manusia yang sangat panjang. Pertanyaannya: Apakah pengetahuan yang lahir dari pengalaman selama ratusan tahun otomatis bukan ilmu? Di sinilah Masalahnya Pengalaman memang berharga.Tetapi pengalaman juga bisa menipu, seorang tabib memberikan ramuan kepada seseorang.Beberapa hari kemudian pasien sembuh. Apakah ramuan itu yang menyembuhkan? Belum tentu. Mungkin penyakitnya memang akan sembuh sendiri. Mungkin pasien juga mengubah pola makan. Mungkin tubuhnya berhasil melawan penyakit. Atau mungkin memang terdapat senyawa dalam ramuan tersebut yang memberikan efek biologis. Tanpa pengujian, kita tidak benar-benar tahu. Dan inilah alasan mengapa sains tidak hanya mengumpulkan pengalaman. Sains berusaha memisahkan: Mana yang benar-benar bekerja, mana yang kebetulan, dan mana yang hanya dipercaya bekerja. Tapi Sains Juga Tidak Berarti Sempurna Menariknya, ilmu kedokteran sendiri tidak pernah benar-benar berhenti, apa yang dianggap benar hari ini bisa berubah ketika ditemukan bukti baru. Obat yang dulu dianggap aman bisa kemudian diketahui memiliki risiko.Metode pengobatan yang dulu populer bisa ditinggalkan. Teori lama bisa diperbaiki. Artinya, ilmu pengetahuan modern memiliki satu prinsip yang sangat penting:“Buktikan kembali.” Dan mungkin justru prinsip inilah yang seharusnya digunakan ketika kita melihat pengobatan tradisional. Bukan langsung mengatakan: “Itu kuno, berarti salah.” Tetapi juga bukan: “Itu warisan leluhur, berarti pasti benar.” Keduanya sama-sama bisa menjadi kesalahan. Lalu, Apakah Tabib dan Dokter Sama? Tidak, seorang dokter modern memiliki sistem pendidikan, standar praktik, penelitian, dan metode diagnosis yang jauh lebih terukur. Seorang tabib tradisional bisa memiliki pengetahuan empiris yang sangat luas, tetapi tidak semua pengetahuannya telah melalui pengujian ilmiah. Namun mungkin ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari keduanya. Tabib mengajarkan kita pentingnya pengalaman. Sains mengajarkan kita pentingnya pembuktian. Dan ketika keduanya bertemu, muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik: Berapa banyak pengetahuan leluhur yang sebenarnya memiliki dasar ilmiah, tetapi belum pernah kita teliti dengan serius? Bisa jadi ada pengetahuan yang memang terbukti bermanfaat, bisa juga ada pengetahuan yang ternyata tidak memiliki efek seperti yang dipercaya. Dan mungkin ada pula pengetahuan yang ternyata berbahaya jika digunakan tanpa pemahaman yang benar. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah menguji, bukan memuja masa lalu bukan juga meremehkannya. Jadi, Apa yang Disebut Ilmu? Mungkin ilmu bukan sekadar sesuatu yang berasal dari laboratorium. Dan ilmu juga bukan sekadar sesuatu yang diwariskan oleh leluhur. Ilmu adalah pengetahuan yang terus dipertanyakan, diuji, dan diperbaiki. Tabib memiliki pengalaman, Dokter memiliki bukti. Tetapi pengalaman tanpa pengujian bisa menghasilkan keyakinan. Dan bukti tanpa keterbukaan terhadap pertanyaan baru bisa berubah menjadi dogma. Maka mungkin pertanyaan sebenarnya bukan: “Dokter atau tabib, siapa yang benar?” Melainkan: “Berapa banyak hal yang kita percaya sebagai kebenaran hanya karena kita tidak pernah benar-benar mengujinya?” Kalau kamu diberi kesempatan meneliti satu metode pengobatan tradisional Nusantara menggunakan teknologi kedokteran modern, apa yang ingin kamu buktikan?

CamaroCamaro5 hari yang lalu0
2
Sains & Tech

AI AKAN MEMBUAT MANUSIA JADI MAKHLUK NGGAK BERGUNA?

Selama ini manusia selalu merasa dirinya paling spesial. Kita merasa punya akal, kesadaran, perasaan, dan free will, seolah semua keputusan benar-benar lahir dari kehendak kita sendiri. Tapi sains mulai mengacak-acak keyakinan itu. Otak kita ternyata bekerja dari neuron, hormon, sinyal listrik dan reaksi kimia. Bahkan banyak keputusan sudah diproses otak sebelum kita sadar sedang mengambil keputusan. Jadi pertanyaannya sederhana, kalau pilihan kita sebenarnya hasil proses biologis di dalam otak, free will itu benar-benar ada atau cuma perasaan bahwa kita sedang bebas memilih? Masalahnya sekarang muncul AI dan Big Data. AI membuktikan bahwa kecerdasan ternyata nggak harus punya perasaan dan kesadaran. Mesin nggak perlu jatuh cinta, sakit hati, lapar, capek atau galau untuk bisa berpikir dan bekerja. Dalam dunia industri ini jelas ancaman, karena perusahaan pada akhirnya mencari efisiensi. Kalau AI bisa mengerjakan pekerjaan manusia lebih cepat, murah dan akurat, sebagian manusia bisa kehilangan nilai ekonominya. Bukan berarti manusia nggak berguna sebagai manusia, tapi sistem ekonomi mungkin sudah nggak terlalu membutuhkan kemampuan mereka. Inilah yang kemudian disebut sebagai ancaman munculnya useless class. Yang lebih menarik sekaligus agak mengerikan, algoritma sekarang semakin mengenal kita. Semua yang kita klik, tonton, beli, like, cari dan komentari menjadi data. Dari situ algoritma belajar tentang perilaku kita. Bahkan kadang FYP lebih tahu apa yang kita suka dibanding orang terdekat kita. Dan manusia justru dengan sukarela menyerahkan semakin banyak keputusan kepada algoritma: mau nonton apa, beli apa, dengar musik apa, cari pasangan siapa, sampai berita dan pandangan politik apa yang muncul di depan mata kita. Jadi mungkin AI nggak perlu mengambil alih manusia seperti cerita film. Manusia sendiri yang perlahan menyerahkan kendali karena merasa algoritma lebih praktis dan lebih pintar. Di sinilah muncul gagasan Dataisme, ketika dunia tidak lagi berpusat pada manusia tetapi pada data. Hidup kita sekarang hampir semuanya diubah menjadi data: foto, lokasi, transaksi, tontonan, percakapan sampai preferensi pribadi. Bahkan pengalaman terasa belum lengkap kalau belum difoto dan di-upload. No pict = hoax yang awalnya cuma becandaan sebenarnya menggambarkan zaman kita dengan cukup tepat. Dulu manusia merasa dirinya pusat alam semesta, kemudian sains menghancurkan keyakinan itu satu per satu. Sekarang AI memberikan pukulan berikutnya: ternyata kecerdasan juga mungkin bukan milik eksklusif manusia. Kalau suatu saat algoritma benar-benar lebih mengenal diri kita dibanding kita mengenal diri sendiri, pertanyaannya bukan lagi seberapa pintar AI nanti, tapi apakah manusia masih menjadi pengendali, atau justru sudah menjadi bagian dari algoritma itu sendiri?

WiyanWiyan5 hari yang lalu0
6
Sains & Tech

KETIKA MANUSIA MULAI INGIN JADI “TUHAN” ------PART 2

DARI HUMANISME KE DATAISME Selama beberapa abad terakhir, humanisme menempatkan manusia sebagai pusat. Kita percaya pada gagasan Perasaan, pengalaman, dan pilihan manusia dianggap sebagai sumber utama makna. Tapi Harari melihat kemungkinan munculnya paradigma baru yang ia sebut Dataisme. Dalam Dataisme, yang paling penting bukan lagi manusia. Yang paling penting adalah data dan arus informasi. Manusia akhirnya hanya menjadi salah satu bagian dari jaringan pemrosesan informasi yang jauh lebih besar. Kalau ini terjadi, posisi Homo sapiens sebagai makhluk paling penting bisa mulai goyah. Dan di bagian ini paling ngeri!!!! Teknologi peningkatan manusia kemungkinan tidak murah. Artinya, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bayangkan ketika orang kaya bukan cuma punya rumah lebih besar atau mobil lebih mahal. Tapi mereka bisa membeli umur lebih panjang, tubuh lebih sehat, kecerdasan lebih tinggi, bahkan kemampuan biologis yang lebih unggul. Ketimpangan ekonomi akhirnya bisa berubah menjadi ketimpangan biologis. Muncul kelompok kecil manusia yang sudah diupgrade, sementara sebagian besar manusia biasa justru kehilangan nilai ekonominya karena banyak pekerjaan sudah dilakukan AI dan mesin. Harari menyebut kemungkinan munculnya kelompok ini sebagai “useless class”, yaitu kelompok manusia yang semakin kehilangan peran ekonomi dan militernya. Jadi persoalan masa depan mungkin bukan lagi sekadar siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Tapi jauh lebih ekstrem, siapa yang masih Homo sapiens biasa, dan siapa yang sudah menjadi Homo deus. Dan mungkin pertanyaan terbesar abad ke-21 bukan “Seberapa canggih teknologi yang bisa kita buat?” Melainkan “Kalau manusia punya teknologi untuk mengubah dirinya sendiri, kita sebenarnya ingin berubah menjadi apa?” #sains-tech

WiyanWiyan5 hari yang lalu0
2
Sains & Tech

KETIKA MANUSIA MULAI INGIN JADI “TUHAN” ------PART 1

Selama ribuan tahun, manusia punya tiga musuh besar: kelaparan, penyakit, dan perang. Dulu tiga hal ini dianggap seperti nasib yang sulit dihindari. Kalau wabah datang, ya banyak orang mati. Kalau gagal panen, kelaparan. Kalau perang pecah, satu kota bisa habis. Tapi menurut Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus, manusia modern mulai berhasil mengendalikan masalah-masalah tersebut lewat ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, ekonomi, dan sistem politik. Lalu muncul pertanyaan Kalau manusia sudah semakin mampu mengatasi masalah lamanya, selanjutnya kita mau ngapain? Jawabannya cukup gila...! Manusia mulai mengejar tiga target baru hidup lebih lama bahkan kalau bisa tidak mati, hidup lebih bahagia, dan punya kemampuan yang jauh melampaui manusia biasa. Di sinilah Harari menggunakan istilah Homo Deus. Bukan berarti besok manusia berubah jadi dewa. Maksudnya, manusia mulai ingin memiliki kemampuan yang dulu hanya kita bayangkan dimiliki oleh para dewa. CARANYA GIMANA? Menurut Harari, ada beberapa jalur yang mungkin membawa manusia ke sana. Pertama, rekayasa biologis. DNA dan tubuh manusia bisa dimodifikasi. Awalnya mungkin untuk menyembuhkan penyakit genetik. Kalau kita bisa memperbaiki tubuh orang sakit, kenapa tidak sekalian meningkatkan kemampuan orang sehat? Lebih kuat. Lebih pintar. Lebih tahan penyakit. Bahkan mungkin hidup jauh lebih lama. Kedua, manusia bisa saja menjadi cyborg (manusia robot). Tubuh biologis mulai digabungkan dengan teknologi: organ buatan, sensor, implan otak, anggota tubuh robotik sampai kemungkinan koneksi langsung antara otak dan komputer. Menurut Harari, transisi menjadi cyborg ini tidak akan terjadi melalui ledakan revolusi yang tiba-tiba seperti di film-film fiksi ilmiah, melainkan melalui proses historis yang bertahap dalam kehidupan sehari-hari. contohnya Setiap hari, saat kita menyerahkan kendali hidup kita pada smartphone atau mulai menggunakan teknologi medis untuk memodifikasi tubuh, nah...kita sebenarnya sedang mengambil langkah demi langkah untuk menyatu dengan mesin dan komputer. termasuk AI saat ini!.Pada akhirnya,tidak hanya mengandalkan alat eksternal di luar tubuh, kekuatan manusia masa depan akan bertumpu pada penggabungan langsung antara tubuh dan pikiran kita dengan teknologi tersebut Ketiga, kemungkinan yang lebih ekstrem manusia tidak lagi sepenuhnya biologis. Sebagian fungsi otak dan pikiran bisa saja digantikan atau dipindahkan ke sistem digital. Kedengarannya seperti film sci-fi. Masalahnya, sebagian teknologinya sudah mulai dikembangkan sekarang. Harari kemudian membawa pembahasannya lebih jauh.Menurut sains modern yang ia bahas, tubuh manusia pada dasarnya bekerja melalui proses biokimia. Otak menerima informasi, memprosesnya, lalu menghasilkan keputusan. Artinya, banyak hal yang selama ini kita anggap sebagai keputusan pribadi sebenarnya muncul dari proses biologis yang sangat kompleks. Di sisi lain, AI dan algoritma semakin pintar membaca data manusia. Bayangkan algoritma mengetahui: detak jantung kita, pola tidur, aktivitas harian, riwayat kesehatan, kebiasaan belanja, lokasi, tontonan, musik yang kita dengarkan, sampai orang yang sering kita hubungi. algoritma mungkin mengenal pola diri kita lebih baik daripada kita sendiri. Hari ini algoritma merekomendasikan film. Besok mungkin merekomendasikan pekerjaan. Lalu pasangan. Lalu keputusan kesehatan. Sampai akhirnya muncul pertanyaan: kalau algoritma bisa mengambil keputusan lebih akurat daripada kita, masih seberapa besar manusia memegang kendali atas hidupnya sendiri? Lanjut Part 2----------------- #sainstech #homodeus #homo #sapiens

WiyanWiyan5 hari yang lalu0
2
Halaman 2 dari 3