numa
Seni & Kreatif

Blok M Tak Pernah Mati, Ia Hanya Berganti Generasi

Rio ChanRio ChanSider - 28 postingan4 hari yang laluDiperbarui 4 hari yang lalu

Ada satu kawasan di Jakarta yang seolah selalu menemukan cara untuk kembali menjadi tempat berkumpul anak muda.

Namanya Blok M.

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an, Blok M bukan sekadar kawasan perdagangan atau terminal. Ia adalah tempat untuk bertemu teman, mencari hiburan, mendengarkan musik, menonton film, makan, berbelanja, atau sekadar menghabiskan waktu.

Blok M bahkan begitu lekat dengan budaya anak muda Jakarta pada masanya hingga muncul film Blok M pada 1990 dengan slogan “Blok M Bakal Lokasi Mejeng”.

Tetapi waktu berubah. Pusat hiburan bergeser. Kebiasaan masyarakat berubah. Sebagian area Blok M sempat terlihat sepi dan kehilangan denyut yang dahulu membuatnya terkenal. Kawasan yang pernah menjadi salah satu pusat kehidupan anak muda Jakarta itu perlahan seperti kehilangan generasinya.

Namun Blok M ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya menunggu bentuk baru. Kehadiran M Bloc Space sejak 2019 menjadi salah satu titik yang ikut menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai ruang kreatif. Kemudian konektivitas MRT membuat Blok M semakin mudah dijangkau, sementara kuliner, toko, ruang komunitas, dan berbagai aktivitas baru bermunculan.

Perlahan, wajah Blok M berubah. Yang datang bukan lagi hanya generasi yang memiliki kenangan terhadap Blok M era 1980-an atau 1990-an. Kini semakin banyak wajah muda yang mungkin bahkan tidak pernah mengalami masa kejayaan Blok M sebelumnya.

Mereka datang untuk mencari makanan, nongkrong di kafe, menikmati musik, membeli pakaian, mengunjungi ruang kreatif, mencari buku, berburu barang unik, menghadiri acara, atau sekadar berjalan-jalan bersama teman.

Menariknya, Gen Z tidak datang ke Blok M hanya karena satu tempat. Mereka datang karena kawasan itu sendiri menawarkan pengalaman.

Satu jalan bisa membawa seseorang dari tempat makan ke toko pakaian, dari ruang kreatif ke tempat pertunjukan musik, lalu berakhir dengan sekadar duduk dan berbincang bersama teman.

Blok M kembali menjadi ruang untuk menghabiskan waktu. Pada titik tertentu, Blok M bukan lagi sekadar tempat yang didatangi karena ada sesuatu yang ingin dibeli.

Blok M menjadi tempat yang memang ingin didatangi.

Fenomena ini juga memperlihatkan sesuatu tentang bagaimana sebuah kawasan kota bisa bertahan. Sebuah tempat tidak selalu harus dibangun ulang sepenuhnya untuk menjadi menarik. Kadang yang dibutuhkan adalah memberikan ruang bagi aktivitas baru untuk tumbuh di atas identitas lama.

Itulah yang terjadi di Blok M. Generasi sebelumnya meninggalkan cerita tentang tempat nongkrong, musik, film, pusat perbelanjaan, dan kehidupan malam. Generasi sekarang datang membawa kafe, komunitas, event musik, ruang kreatif, fashion, kuliner, dan berbagai bentuk budaya populer baru.

Keduanya berbeda, tetapi ada satu kesamaan kebutuhan untuk berkumpul.

Mungkin karena itu Blok M tidak pernah benar-benar kehilangan identitasnya. Yang berubah adalah orang-orang yang mengisinya dan cara mereka menikmati kawasan tersebut.

Dulu anak muda datang ke Blok M untuk mejeng. Sekarang mereka datang untuk mencari makanan, mendengarkan musik, berburu barang unik, menghadiri acara, membuat konten, atau sekadar nongkrong.

Aktivitasnya berubah.

Generasinya berganti.

Tetapi kebutuhan untuk memiliki sebuah tempat untuk bertemu tetap sama. Dan mungkin itulah alasan mengapa Blok M selalu punya kesempatan untuk hidup kembali. Blok M tak pernah mati. Ia hanya berganti generasi.

#senikreatif #seni-kreatif

#senikreatif#seni-kreatif
00
Rio Chan

Balasan (0)

Topik Terkait