Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Seni & Kreatif

Ruang apresiasi seni rupa, pertunjukan, kriya, musik, dan karya.

Seni & Kreatif

Mengelola Orang di Dunia Kreatif: Antara Passion, Profesionalitas, dan AI --- PART 2

Ketika Seniman Ketemu Dunia Industri Ada orang yang secara artistik luar biasa. Skill-nya tinggi, taste-nya kuat, dan hasil karyanya bagus. Tapi ketika masuk ke industri, persoalannya bisa berbeda. Ada deadline. Ada revisi. Ada brief yang berubah. Ada template. Ada klien. Ada budget. Ada target produksi. Kadang sesuatu yang pagi sudah approved, sore kembali lagi ke versi pertama. Sebuah tradisi industri kreatif yang tampaknya diwariskan turun-temurun. Di sinilah skill artistik bertemu dengan adaptabilitas dan profesionalitas. Jadi ketika seorang seniman atau pekerja kreatif kesulitan bekerja dalam sistem industri, masalahnya belum tentu karena dia “susah diatur”. Bisa jadi persoalannya ada pada komunikasi, budaya kerja, sistem organisasi, cara mengelola orang kreatif, atau kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Soal Bayaran Juga Rumit Pertanyaan berikutnya adalah: bisakah pekerja seni punya standar bayaran? Masalahnya, dunia seni sangat luas. Cara menghitung pekerjaan pembatik tentu berbeda dengan 3D artist. Musisi berbeda dengan fotografer. Penari berbeda dengan teknisi panggung. Begitu juga MC, ilustrator, animator, filmmaker, dan profesi kreatif lainnya. Skill, pengalaman, waktu kerja, tanggung jawab, dan tingkat kesulitannya berbeda. Karena itu, mungkin sulit membuat satu standar upah untuk semua pekerja seni. Yang lebih realistis adalah membuat standar berdasarkan bidang dan tingkat kompetensi. Misalnya standar bayaran 3D artist berdasarkan level junior, middle, dan senior. Begitu juga fotografer, musisi event, pekerja panggung, animator, dan profesi lainnya. Setidaknya ada benchmark. Jadi harga jasa kreatif tidak terus ditentukan dengan metode ekonomi paling purba: “Budget-nya segini, bisa nggak?” Networking Itu Bagian dari Karier Karier di dunia seni juga tidak selalu berjalan lurus. Banyak pekerja kreatif justru berkembang melalui komunitas, mentoring, pengalaman proyek, pertemanan profesional, dan belajar langsung di lapangan. Hari ini seseorang menjadi junior designer. Beberapa tahun kemudian menjadi art director. Setelah itu mungkin membuat studio sendiri. Atau malah pindah ke film, game, teknologi, atau bidang lain yang sebelumnya tidak pernah direncanakan. Karena itu, salah satu kemampuan penting pekerja kreatif adalah adaptasi. Teknologi berubah. Tren berubah. Cara produksi berubah. Bahkan jenis pekerjaan juga berubah. Dan sekarang perubahan itu semakin cepat karena ada AI nya.

WiyanWiyan7 hari yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Ketika Wayang Bertemu Teknologi

Dulu, untuk melihat wayang, kita harus datang ke sebuah pertunjukan. Ada kelir, lampu, gamelan, suara dalang, dan bayangan tokoh-tokoh yang bergerak di balik layar. Cerita berlangsung berjam-jam, bahkan semalam suntuk. Penonton tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga mengalami sebuah tradisi. Hari ini, wayang bisa muncul di tempat yang sama sekali berbeda. Di layar ponsel, animasi, film, dan gim. Di ilustrasi digital. Bahkan di media sosial yang hanya memberikan kita beberapa detik untuk memperhatikan sesuatu. Wayang telah bertemu teknologi. Dan pertemuan itu tidak selalu harus dianggap sebagai ancaman. Teknologi justru bisa menjadi cara baru untuk memperkenalkan wayang kepada mereka yang sebelumnya tidak pernah mengenalnya. Generasi muda mungkin tidak tumbuh dengan menonton pertunjukan wayang semalam suntuk, tetapi mereka bisa saja pertama kali mengenal Gatotkaca melalui animasi, melihat Arjuna dalam sebuah gim, atau menemukan tokoh pewayangan melalui konten digital. Jika teknologi membuat lebih banyak orang mengenal wayang, bukankah itu sebuah kesempatan? Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Ketika wayang berpindah ke medium baru, apakah maknanya ikut berubah? Sebuah pertunjukan wayang memiliki konteks yang jauh lebih luas daripada sekadar karakter dan cerita. Ada simbol, filosofi, nilai moral, bahasa, musik, tradisi pertunjukan, serta hubungan antara dalang dan penonton. Ketika semuanya dipindahkan ke layar digital, sebagian unsur tersebut mungkin tidak ikut terbawa.Cerita bisa dipersingkat. Karakter bisa dibuat lebih modern. Visual bisa diubah agar lebih menarik. Konflik bisa disederhanakan agar sesuai dengan selera penonton masa kini. Tidak ada yang salah dengan kreativitas. Tradisi memang tidak pernah benar-benar diam, wayang sendiri telah mengalami berbagai perubahan sepanjang perjalanan sejarahnya. Masalahnya muncul ketika kita terlalu sibuk membuat wayang terlihat modern hingga lupa memahami mengapa wayang itu ada. Sebab mempertahankan wayang tidak selalu berarti mempertahankan setiap bentuk lamanya. Yang lebih penting adalah memahami apa yang membuatnya bermakna. Teknologi bisa menjadi alat untuk mendokumentasikan wayang. Bisa menjadi media pembelajaran, menjadi ruang eksperimen bagi seniman. Bahkan bisa membuka kemungkinan lahirnya bentuk-bentuk seni baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Tetapi teknologi tetaplah alatt, ia tidak menentukan sendiri apa yang harus dipertahankan dan apa yang boleh berubah. Keputusan itu tetap berada di tangan manusia. Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan “Apakah wayang boleh menggunakan teknologi?” Tentu saja boleh. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang ingin kita bawa ketika wayang masuk ke dunia digital?” Jika yang kita bawa hanya bentuknya, mungkin kita hanya sedang menciptakan gambar baru dengan nama lama. Namun jika kita membawa cerita, nilai, simbol, dan semangat yang membuat wayang memiliki arti, teknologi justru dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan generasi yang belum mengenalnya. Wayang tidak harus tinggal di masa lalu agar disebut tradisi. Ia boleh masuk ke masa depan. Tetapi ketika wayang bertemu teknologi, kita tetap perlu memastikan bahwa yang berubah adalah caranya bercerita bukan alasan mengapa cerita itu layak diwariskan.

MMentari Senja4 hari yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Mengelola Orang di Dunia Kreatif: Antara Passion, Profesionalitas, dan AI --- PART 1

Kerja di Dunia Seni: Passion Saja Nggak CukupDunia seni dan industri kreatif punya cara kerja yang agak beda dari industri pada umumnya. Banyak pekerjaan datang berdasarkan proyek. Hari ini sibuk luar biasa, bulan depan bisa sepi. Ada yang kerja tetap, tapi banyak juga yang hidup sebagai freelancer, pekerja kontrak, atau berpindah dari satu proyek ke proyek berikutnya. Cara mencari orangnya juga unik. Di perusahaan besar biasanya ada lowongan, job description, interview, kontrak, sampai jenjang karier. Di dunia kreatif kadang prosesnya jauh lebih simpel: “Ada yang kenal 3D artist bagus?” “Butuh fotografer minggu depan, ada orang?” Lalu nama-nama mulai keluar dari grup WhatsApp, teman lama, komunitas, atau rekomendasi orang yang pernah kerja bareng. Pola seperti ini sering disebut spot recruitment. Orang direkrut ketika skill-nya sedang dibutuhkan. Makanya di dunia kreatif, ijazah dan CV bukan satu-satunya modal. Skill, portfolio, reputasi, pengalaman, dan networking sering jauh lebih menentukan. Passion Bisa Jadi Kekuatan, Bisa Juga Jadi Jebakan Salah satu bahan bakar terbesar pekerja seni adalahDunia seni dan industri kreatif punya cara kerja yang agak beda dari industri pada umumnya. Banyak pekerjaan datang berdasarkan proyek. Hari ini sibuk luar biasa, bulan depan bisa sepi. Ada yang kerja tetap, tapi banyak juga yang hidup sebagai freelancer, pekerja kontrak, atau berpindah dari satu proyek ke proyek berikutnya. Cara mencari orangnya juga unik. Di perusahaan besar biasanya ada lowongan, job description, interview, kontrak, sampai jenjang karier. Di dunia kreatif kadang prosesnya jauh lebih simpel: “Ada yang kenal 3D artist bagus?” “Butuh fotografer minggu depan, ada orang?” Lalu nama-nama mulai keluar dari grup WhatsApp, teman lama, komunitas, atau rekomendasi orang yang pernah kerja bareng. Pola seperti ini sering disebut spot recruitment. Orang direkrut ketika skill-nya sedang dibutuhkan. Makanya di dunia kreatif, ijazah dan CV bukan satu-satunya modal. Skill, portfolio, reputasi, pengalaman, dan networking sering jauh lebih menentukan. Passion Bisa Jadi Kekuatan, Bisa Juga Jadi Jebakan Salah satu bahan bakar terbesar pekerja seni adalah passion. Banyak orang memilih menjadi desainer, musisi, seniman, filmmaker, animator, fotografer, atau pekerja kreatif bukan hanya karena uang. Mereka memang suka dengan apa yang mereka kerjakan. Passion membuat orang mau belajar bertahun-tahun. Rela mengulang karya berkali-kali. Mau terus meningkatkan skill meskipun tidak ada yang menyuruh. Tapi passion juga punya sisi problematik. Karena dianggap bekerja berdasarkan passion, pekerja kreatif kadang dianggap wajar kalau bekerja sampai malam, revisi berkali-kali, dibayar murah, atau mengorbankan waktu pribadi. Padahal suka sama pekerjaan bukan berarti harus mau dieksploitasi. Pekerja seni tetap manusia. Mereka punya kebutuhan hidup, keluarga, kesehatan, waktu istirahat, dan masa depan. Jadi passion penting, tapi harus tetap berjalan bersama profesionalitas dan kesejahteraan. Banyak orang memilih menjadi desainer, musisi, seniman, filmmaker, animator, fotografer, atau pekerja kreatif bukan hanya karena uang. Mereka memang suka dengan apa yang mereka kerjakan. Passion membuat orang mau belajar bertahun-tahun. Rela mengulang karya berkali-kali. Mau terus meningkatkan skill meskipun tidak ada yang menyuruh. Tapi passion juga punya sisi problematik. Karena dianggap bekerja berdasarkan passion, pekerja kreatif kadang dianggap wajar kalau bekerja sampai malam, revisi berkali-kali, dibayar murah, atau mengorbankan waktu pribadi. Padahal suka sama pekerjaan bukan berarti harus mau dieksploitasi. Pekerja seni tetap manusia. Mereka punya kebutuhan hidup, keluarga, kesehatan, waktu istirahat, dan masa depan. Jadi passion penting, tapi harus tetap berjalan bersama profesionalitas dan kesejahteraan. Lanjut -----Part 2 https://www.nusantaramahayatra.com/forum/seni/mengelola-orang-di-dunia-kreatif-antara-passion-profesionalitas-dan-ai-part-2-6363f8 #seni #kreatif

WiyanWiyan7 hari yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Ketika yang Fisik Kembali Berarti

Kita hidup di zaman ketika hampir semuanya bisa dilakukan tanpa benda fisik. Jutaan lagu ada di layanan streaming. Film bisa ditonton kapan saja, buku dapat disimpan dalam satu perangkat. Kita bahkan tidak perlu memiliki sebuah album untuk bisa mendengarkannya. Namun, di tengah kemudahan itu, sesuatu yang dulu dianggap mulai ditinggalkan justru kembali dicari. Kaset, CD, vinyl, hingga perangkat pemutarnya kembali mendapatkan perhatian. Bukan hanya medianya yang kembali muncul, tetapi juga pengalaman menggunakannya. Memasukkan kaset ke tape player, menekan tombol play, membalik sisi A ke sisi B. Memasukkan CD ke pemutar atau meletakkan jarum pada sebuah piringan vinyl. Semua itu terdengar lebih merepotkan dibandingkan menekan tombol pada aplikasi streaming. Tetapi mungkin justru di situlah daya tariknya, ketika teknologi membuat kita bisa mendapatkan hampir semuanya secara instan, proses menikmati sebuah karya secara perlahan kembali terasa memiliki nilai. Sebuah album bukan lagi sekadar kumpulan lagu, ada sampul, booklet, desain, kemasan, suara perangkat, hingga rak tempat album itu disimpan. Yang dimiliki bukan hanya musiknya, tetapi juga pengalaman di sekitarnya. Hal yang sama berlaku pada buku, majalah, film, dan berbagai karya kreatif dalam bentuk fisik. Benda-benda tersebut memberikan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diberikan oleh layar: kesempatan untuk menyentuh, menyimpan, melihat, dan merasa bahwa kita benar-benar memiliki sebuah karya. Namun, apakah ini berarti manusia ingin kembali meninggalkan teknologi? Belum tentu, streaming tetap menawarkan kemudahan. Format digital tetap menjadi bagian penting dari kehidupan modern, kehadiran rilisan fisik bukan berarti teknologi gagal. Justru keduanya bisa hidup berdampingan. Digital memberikan akses. Fisik memberikan pengalaman. Mungkin karena itulah rilisan dan perangkat lama kembali menemukan tempatnya. Bukan semata-mata karena nostalgia, tetapi karena di tengah dunia yang semakin cepat, sebagian orang mulai menghargai sesuatu yang membuat mereka berhenti sejenak. Pada akhirnya, mungkin kita tidak benar-benar kembali ke masa lalu. Kita hanya sedang menemukan kembali satu hal yang hampir hilang, menikmati sebuah karya bukan hanya tentang mendapatkannya, tetapi juga tentang mengalami proses memilikinya. #senikreatif #seni-kreatif

CamaroCamarosekitar 15 jam yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Menelusuri Perjalanan Dialektika Filsafat Seni Abad ke-20

Chpt 1 Introduction Ada satu pertanyaan yang terus bikin filsuf seni ribut sepanjang abad ke-20: Sebenarnya, apa yang membuat sesuatu bisa disebut seni? Kelihatannya sederhana. Tapi ternyata jawabannya jauh dari sederhana. Pada awal abad ke-20, para filsuf masih cukup percaya diri bahwa seni bisa didefinisikan. Clive Bell melihat seni dari sisi bentuk atau form. R. G. Collingwood melihat seni sebagai ekspresi. Intinya, mereka masih percaya bahwa karya seni punya karakter tertentu yang bisa ditemukan, lalu dirumuskan menjadi definisi. Tapi memasuki pertengahan abad ke-20, kepercayaan itu mulai digoyang. Di bawah pengaruh Ludwig Wittgenstein, muncul filsuf seperti Morris Weitz, William Kennick, dan Paul Ziff yang mulai skeptis. Mereka mempertanyakan satu hal penting: memangnya seni bisa dikunci dalam satu definisi? Mereka menolak gagasan bahwa seni harus punya syarat perlu dan cukup (necessary and sufficient conditions) yang berlaku untuk semua karya. Bahkan, skeptisisme ini cukup kuat sampai proyek mencari definisi seni seperti kena tombol pause selama kurang lebih satu dekade. Morris Weitz menjadi salah satu tokoh penting dalam perdebatan ini. Ia membawa dua gagasan utama: open concept dan family resemblance. Lewat open concept, Weitz melihat seni sebagai praktik yang selalu terbuka terhadap perubahan. Seni terus berkembang. Seniman selalu bisa membuat sesuatu yang baru, melakukan eksperimen, bahkan membongkar aturan yang sebelumnya dianggap normal. Jadi masalahnya begini: kalau seni terus berubah, bagaimana mungkin kita membuat definisi yang kaku? Bagi Weitz, definisi semacam itu justru berisiko membatasi sifat seni yang selalu terbuka terhadap kebaruan. Lalu muncul gagasan kedua: family resemblance, atau kemiripan keluarga. Menurut pendekatan ini, kita tidak perlu mencari satu sifat yang dimiliki semua karya seni. Kita mengenali sesuatu sebagai seni karena melihat adanya jaringan kemiripan dengan karya-karya yang sebelumnya sudah dianggap sebagai seni. Mirip keluarga. Tidak semua anggota keluarga punya wajah yang sama. Tapi ada kemiripan tertentu yang membuat kita bisa melihat hubungan di antara mereka. Begitu juga dengan karya seni. Kelihatannya masuk akal. Tapi Noël Carroll melihat ada masalah. Pertama, Weitz dianggap mencampuradukkan antara karya seni (artwork) dengan praktik seni (practice of art). Praktik seni memang selalu terbuka. Cara manusia membuat seni bisa berubah dari generasi ke generasi. Tapi itu tidak otomatis berarti karya seni yang sudah selesai tidak mungkin memiliki syarat tertentu untuk disebut seni. Dengan kata lain: praktik seni boleh terus berubah, tapi itu tidak otomatis membuat definisi seni menjadi mustahil. Kemunculan teori Arthur Danto dan George Dickie kemudian menunjukkan bahwa syarat perlu dan cukup masih mungkin dirumuskan tanpa harus membatasi kreativitas seniman. Masalah kedua datang dari family resemblance. Kalau seni hanya ditentukan berdasarkan kemiripan, batasnya bisa terlalu longgar. Karena faktanya, hampir semua benda di dunia bisa punya kemiripan dengan benda lain dalam aspek tertentu. Kursi bisa mirip patung. Batu bisa mirip instalasi. Kardus bisa mirip karya konseptual. Kalau semua kemiripan diterima tanpa batas yang jelas, muncul masalah yang disebut “here comes everything.” Sederhananya: kalau kriterianya terlalu longgar, semuanya bisa masuk. Dan kalau semuanya bisa disebut seni, kita kembali punya masalah: lalu apa yang membedakan seni dengan yang bukan seni? Maurice Mandelbaum kemudian mengkritik gagasan kemiripan keluarga ini dari arah lain. Menurutnya, kemiripan keluarga bukan sekadar soal apa yang terlihat. Orang disebut satu keluarga bukan hanya karena wajah atau hidung mereka mirip. Ada hubungan genetis dan latar belakang yang menghubungkan mereka. Dari sinilah pembahasan filsafat seni mulai bergeser. Para filsuf mulai berhenti hanya mencari sifat yang kelihatan pada objek atau manifest properties. Mereka mulai melihat sesuatu yang tidak selalu terlihat langsung: konteks, sejarah, hubungan, dan latar belakang sebuah karya. Pergeseran ini kemudian menjadi penting dalam pemikiran Arthur Danto. Danto menggunakan persoalan indiscernibles, yaitu dua benda yang secara visual sulit dibedakan tetapi memiliki status berbeda. Contoh terkenalnya adalah Brillo Box karya Andy Warhol dan kotak Brillo biasa di supermarket. Secara visual, keduanya bisa terlihat sama. Tapi kenapa yang satu disebut karya seni, sementara yang lain cuma kotak produk? Nah, di sinilah masalahnya. Kalau bentuk fisiknya hampir sama, berarti penampilan saja tidak cukup untuk menjelaskan kenapa sesuatu disebut seni. Menurut Danto, kita harus melihat sejarahnya, teori seni yang melatarinya, dan makna yang diwujudkan dalam karya atau embodiment of meaning. Pertanyaannya kemudian bergeser. Bukan lagi cuma: “Benda ini terlihat seperti apa?” Tetapi: “Benda ini hadir dalam konteks apa, dan membawa makna apa?” George Dickie kemudian bergerak melalui Teori Institusional Seni. Menurut pendekatan ini, status karya seni juga berkaitan dengan dunia sosial seni atau artworld: seniman, kurator, museum, galeri, kritikus, dan institusi yang membentuk praktik seni. Jadi untuk memahami kenapa sesuatu menjadi seni, melihat bendanya saja belum cukup. Kita juga harus melihat sistem yang mengelilinginya. Setelah skeptisisme pertengahan abad mulai runtuh, diskusi tentang definisi seni kembali terbuka. Berys Gaut menawarkan cluster concept. Seni tidak harus memiliki satu syarat tunggal yang wajib dimiliki semua karya. Sebaliknya, ada kumpulan kriteria yang dapat bekerja secara disjungtif. Robert Stecker mencoba melihat seni melalui kombinasi fungsi, sejarah, niat seniman, dan institusi seni. James C. Anderson kembali mengembangkan definisi estetis melalui apresiasi estetis. Perdebatan kemudian semakin luas. Joseph Margolis melihat karya seni sebagai entitas budaya yang muncul melalui proses enkulturasi. Marcia Muelder Eaton mencoba memperbaiki definisi seni agar tidak terjebak bias Eurosentris. George Bailey membahas hak dan tanggung jawab sosial karya seni. Peg Zeglin Brand mengkritik kanon sejarah seni yang berbias patriarki. Sementara Stephen Davies dan Denis Dutton membawa pembahasan menuju seni non-Barat dan tribal art dalam kerangka lintas budaya. Jadi, perjalanan filsafat seni abad ke-20 menunjukkan satu perubahan besar. Awalnya filsuf sibuk mencari apa yang ada di dalam karya seni. Lalu muncul pertanyaan apakah seni bahkan mungkin didefinisikan. Setelah itu, pembahasannya bergeser lebih jauh: seni ternyata tidak cukup dipahami hanya dari bentuk bendanya, tetapi juga melalui konteks, sejarah, relasi sosial, institusi, budaya, dan makna. Dan pertanyaan “apa itu seni?” ternyata tidak pernah benar-benar selesai. Semakin manusia mencoba membuat batas yang rapi tentang seni, semakin muncul karya yang membuat batas itu kembali dipertanyakan. Mungkin justru itu yang membuat perdebatan tentang seni terus hidup.

WiyanWiyan9 hari yang lalu0
0