Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Sejarah & Budaya

Cerita sejarah, budaya, tradisi, situs, dan jejak Nusantara.

Sejarah & Budaya

Hompimpa: Ketika Filosofi Kehidupan Menjadi Permainan Anak

“Hompimpa alaium gambreng.” Bagi sebagian besar orang Indonesia, kalimat itu mungkin hanya terdengar seperti suara dari masa kecil. Diucapkan bersama-sama sebelum bermain, lalu semua anak membalik telapak tangan untuk menentukan siapa yang mendapat giliran atau siapa yang harus menjadi penjaga. Sederhana. Bahkan mungkin terdengar tidak masuk akal. Tetapi di balik ritual kecil itu, ada sebuah gagasan yang menarik: menerima hasil yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Hompimpa sering dikaitkan dengan makna filosofis “dari Tuhan kembali kepada Tuhan”. Meski asal-usul dan makna linguistiknya tidak dapat dipastikan secara mutlak, tafsir tersebut memberi kita cara menarik untuk melihat tradisi ini. Sebab anak-anak tidak pernah mempelajari filsafat itu melalui buku, mereka mempraktikkannya melalui permainan. Mereka mengulurkan tangan, semua memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada yang boleh menentukan sendiri siapa yang kalah. Setelah telapak tangan dibuka, hasilnya diterima. Yang menang bermain. Yang kalah menunggu giliran. Di situlah hompimpa menjadi lebih dari sekadar cara memilih pemain. Ia menjadi sebuah bentuk kecil dari kehidupan sosial. Kita tidak selalu mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kita tidak selalu menjadi yang pertama. Kadang kita harus mengalah, menunggu, atau menerima keputusan bersama. Menariknya, semua itu diajarkan tanpa ceramah. Tidak ada guru yang berdiri di depan anak-anak dan berkata, “Hari ini kita akan belajar tentang menerima ketidakpastian.” Anak-anak cukup bermain. Dari permainan tradisional seperti petak umpet, gobak sodor, hingga berbagai permainan kejar-kejaran, hompimpa menjadi semacam pintu masuk sebelum dunia permainan dimulai. Ia menyelesaikan persoalan sederhana yang sering menjadi sumber pertengkaran: Siapa yang mulai? Siapa yang jaga? Daripada berebut, anak-anak menyerahkan keputusan pada aturan yang mereka sepakati bersama. Ironisnya, ketika permainan modern semakin mudah menentukan giliran melalui sistem otomatis, kita justru semakin jarang melakukan ritual sederhana semacam ini. Anak-anak hari ini bisa mendapatkan hasil secara instan. Sistem permainan digital akan menentukan pemain, giliran, lawan, bahkan kemenangan. Sementara hompimpa mengharuskan mereka bertemu, bersuara bersama, melakukan gerakan yang sama, dan menerima hasil bersama-sama. Mungkin itulah alasan mengapa hompimpa layak dilihat bukan hanya sebagai bagian dari permainan anak-anak, tetapi sebagai bagian dari budaya yang pernah mengajarkan nilai melalui pengalaman. Sebuah filosofi tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata rumit. Kadang ia cukup diwujudkan melalui telapak tangan yang dibuka bersama. Dan ketika anak-anak berteriak, “Hompimpa alaium gambreng!”, mungkin mereka sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih tua daripada sekadar menentukan siapa yang harus jaga: Belajar bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa kita tentukan sendiri. Setelah itu, permainan pun dimulai. #sejarahbudaya #sejarah-budaya

CamaroCamaro4 hari yang lalu0
2
Sejarah & Budaya

Ketika Rasa Eropa Harus Tunduk pada Lidah Jawa

Dari tampilannya, ia mengingatkan kita pada hidangan Eropa: daging, kentang, sayuran, telur, dan cara penyajian yang sekilas menyerupai hidangan bergaya Barat. Namun begitu kuahnya menyentuh lidah, yang muncul justru rasa yang begitu akrab bagi masyarakat Jawa—manis, gurih, dan kaya sentuhan kecap. Bagaimana mungkin sesuatu yang membawa jejak Eropa akhirnya terasa begitu Jawa? Jawabannya ada pada satu hal sederhana: budaya tidak pernah hanya menerima. Budaya juga memilih dan mengubah. Dari Meja Eropa ke Dapur Jawa Selat Solo berkembang dari pertemuan masyarakat Jawa dengan tradisi makan Eropa pada masa kolonial. Hidangan daging bergaya Eropa, yang dikenal melalui lingkungan elite dan kolonial, kemudian bertemu dengan kebiasaan makan masyarakat Jawa. Tetapi hidangan tersebut tidak tinggal dalam bentuk aslinya. Ia mengalami perubahan. Daging tidak lagi berdiri sendiri seperti steak. Sayuran dan telur menjadi bagian penting. Kuahnya mendapatkan karakter lokal. Kecap memberikan rasa manis yang begitu kuat hingga identitas hidangan tersebut terasa jauh dari gambaran makanan Eropa yang mungkin menjadi inspirasinya. Di sinilah Selat Solo menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia adalah bukti bahwa sebuah budaya bisa mengambil sesuatu dari luar tanpa harus kehilangan dirinya sendiri. Ketika Harga dan Kelas Ikut Berbicara Makanan juga tidak pernah lepas dari persoalan kelas sosial. Pada masa kolonial, gaya makan Eropa tentu tidak hadir dalam ruang sosial yang sepenuhnya setara. Ada perbedaan akses terhadap bahan makanan, cara makan, dan siapa yang mampu menikmati hidangan tertentu. Namun ketika sebuah gaya makanan masuk ke lingkungan masyarakat yang berbeda, ia harus beradaptasi dengan kenyataan baru. Bahan lokal digunakan. Rasa disesuaikan. Cara penyajian berubah. Bukan berarti Selat Solo semata-mata lahir karena masyarakat tidak mampu membeli makanan Eropa. Sejarah kuliner jauh lebih kompleks dari itu. Tetapi ada sebuah pola yang menarik: Ketika sesuatu yang asing bertemu dengan masyarakat baru, harga, ketersediaan bahan, dan selera lokal ikut menentukan bentuk akhirnya. Dan terkadang, versi yang telah berubah itulah yang justru bertahan. Siapa Sebenarnya yang Mengubah Siapa? Kita sering melihat sejarah kolonial sebagai cerita tentang satu pihak yang memengaruhi pihak lain. Eropa datang membawa bahasa, teknologi, sistem pemerintahan, gaya hidup, dan budaya. Tetapi Selat Solo memberikan gambaran yang sedikit berbeda. Pengaruh itu memang datang dari luar. Namun masyarakat Jawa tidak menerimanya dalam keadaan pasif. Mereka mengolahnya. Mereka menyesuaikannya. Mereka memberikan rasa mereka sendiri. Maka muncul sebuah pertanyaan yang mungkin lebih menarik daripada sekadar mempertanyakan asal-usul Selat Solo: Apakah masyarakat Jawa sedang menjadi semakin “Eropa”, atau justru sedang membuat sesuatu yang Eropa menjadi semakin Jawa? Mungkin jawabannya adalah keduanya. Pertemuan budaya memang tidak selalu berjalan satu arah. Budaya Tidak Harus “Murni” Ada kecenderungan untuk menganggap budaya yang autentik adalah budaya yang tidak tersentuh pengaruh luar. Padahal sejarah Nusantara justru dipenuhi perjalanan, perdagangan, migrasi, dan pertemuan berbagai masyarakat. Rempah-rempah membawa pedagang. Pedagang membawa kebiasaan. Kebiasaan bertemu dengan tradisi lokal. Lalu masyarakat mengubahnya sesuai dengan kehidupan mereka. Hasilnya bukan lagi budaya yang sepenuhnya sama dengan asalnya. Ia menjadi sesuatu yang baru. Selat Solo adalah salah satu contoh kecil dari proses tersebut. Jejak Eropa tetap ada dalam sejarahnya. Tetapi identitas yang melekat padanya hari ini dibentuk oleh perjalanan panjang di tanah Jawa. Sepiring Sejarah yang Tidak Sesederhana Rasanya Mungkin inilah alasan mengapa makanan menarik untuk membaca sejarah. Kita bisa melihat sejarah melalui arsip dan bangunan tua. Kita juga bisa melihatnya melalui peperangan dan pergantian kekuasaan. Tetapi kita juga bisa menemukannya di atas meja makan. Selat Solo mengingatkan kita bahwa pengaruh asing tidak selalu berakhir dengan hilangnya identitas lokal. Kadang, sesuatu yang datang dari luar justru diubah sampai kehilangan sebagian identitas asalnya. Dan ironinya, semakin lama ia hidup di tengah masyarakat lokal, semakin kuat pula ia dianggap sebagai bagian dari budaya sendiri. Jadi, apakah Selat Solo makanan Eropa? Atau makanan Jawa? Mungkin pertanyaan itu sendiri terlalu sederhana. Karena bisa jadi, Selat Solo adalah bukti bahwa budaya tidak selalu bekerja dengan cara memilih antara “milik kita” dan “milik mereka.” Kadang budaya bekerja dengan cara yang jauh lebih menarik, kita mengambil sesuatu dari mereka, mengubahnya dengan cara kita, lalu suatu hari anak cucu kita mengenalnya sebagai milik kita sendiri. Dan mungkin, itulah saat ketika rasa Eropa benar-benar tunduk pada lidah Jawa. #sejarahbudaya #sejarah-budaya

PPeter Parker4 hari yang lalu0
3
Sejarah & Budaya

Sisingaan Masih Hidup. Tapi Apakah Masih Bermakna?

Di tengah musik modern, hiburan digital, dan budaya populer yang bergerak begitu cepat, seekor singa masih diarak di jalan-jalan Subang. Bukan singa sungguhan, melainkan boneka singa yang dipikul oleh beberapa orang. Di atasnya, seorang anak duduk dengan wajah penuh kegembiraan. Musik mengiringi langkah, masyarakat berkumpul, dan sebuah tradisi kembali hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Itulah Sisingaan. Kesenian khas masyarakat Sunda, khususnya Subang, yang selama puluhan tahun begitu dekat dengan berbagai perayaan masyarakat, terutama khitanan. Sisingaan bukan hanya tentang patung singa atau arak-arakan. Di dalamnya terdapat gotong royong, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus identitas budaya masyarakat. Namun zaman berubah. z5gcqrs_n4nopkxcfw9_pssongrlehzu0kp5bbniki-omfpdlpx7ivg-3zmeczpzcxvegf3_cwfk1r5mlthrleelukdr9zn1mrzo2-5k-7rrbgiancvaja9ztx4uh4a8ze1leppxah4yhf.jpg" alt="7xEOUb4t9I6S8tqXNLlUzh_r6b5dNQ13mhzRL3bo2PQEtP2Ez5gcqrS_n4NopKXCFW9_PsSONgRleHzu0kp5BbnIki-OmfPDlPx7ivg-3zmecZpZcXveGf3_cWfk1R5mltHrlEeLUKdr9Zn1mrZo2-5K-7rRbGIanCVAJA9ZTx4uH4a8zE1lePPXAH4yhf.jpg" loading="lazy" decoding="async"> Hari ini, Sisingaan tidak hanya muncul dalam hajatan masyarakat. Ia juga hadir dalam festival budaya, pawai, penyambutan tamu, dan berbagai acara resmi. Perubahan ini membuat Sisingaan tetap terlihat dan dikenal, tetapi sekaligus menghadirkan sebuah pertanyaan: Apakah sebuah tradisi masih memiliki makna ketika cara masyarakat menggunakannya telah berubah? Mungkin jawabannya tidak sesederhana "masih" atau "sudah tidak". Tradisi memang tidak selalu bertahan dengan bentuk yang sama. Sebagian justru bisa tetap hidup karena mampu menyesuaikan diri dengan zaman. Jika dulu Sisingaan terutama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, kini ia juga menjadi bagian dari ruang kebudayaan yang lebih luas. Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah Sisingaan masih dipertunjukkan, tetapi apakah generasi berikutnya masih memahami mengapa tradisi itu ada. Sebab sebuah budaya bisa saja tetap dipentaskan, tetapi kehilangan cerita di baliknya. Ia dapat menjadi tontonan yang indah, tetapi perlahan kehilangan hubungan dengan masyarakat yang dahulu melahirkannya. Di sisi lain, perubahan juga tidak selalu berarti kehilangan. Selama Sisingaan masih dipelajari, dimainkan, diwariskan, dan diberi ruang oleh masyarakat, tradisi itu masih memiliki kesempatan untuk menemukan makna baru. Barangkali, inilah tantangan terbesar kebudayaan hari ini. Bukan sekadar menjaga agar tradisi tidak hilang, tetapi memastikan bahwa ketika tradisi bertahan, kita masih tahu mengapa ia layak dipertahankan. Sisingaan masih hidup. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita masih bisa melihatnya. Tetapi apakah kita masih memahami maknanya? #sejarahbudaya #sejarah-budaya

CamaroCamaro5 hari yang lalu0
1
Sejarah & Budaya

Ceng Beng di Indonesia: Ketika Tradisi Tionghoa Bertemu Nusantara

Setiap tahun masyarakat Tionghoa memperingati Ceng Beng atau Qingming (清明), sebuah tradisi untuk mengunjungi dan menghormati makam leluhur. Tradisi ini biasanya dilakukan sekitar tanggal 4–6 April setiap tahun. Tanggalnya dapat sedikit berubah dari tahun ke tahun karena mengikuti perhitungan Qingming, salah satu dari 24 istilah musim (solar terms) dalam kalender tradisional Tiongkok. Pada tahun 2026, Ceng Beng jatuh pada 5 April lalu. Pada saat Ceng Beng, keluarga biasanya datang ke makam leluhur untuk membersihkan area makam, berdoa atau melakukan pai, serta membawa buah, kue, makanan, dan bunga. Tapi ada satu hal yang mungkin pernah kita lihat: Setelah makam dibersihkan, mengapa sering ada kertas berwarna kuning atau perak yang diletakkan di atas makam? Dan sebenarnya, dari mana tradisi Ceng Beng ini berasal? Dari Mana Tradisi Ceng Beng Berasal? Ceng Beng dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa untuk mengenang dan menghormati leluhur. Tradisi ini memiliki sejarah panjang dan berkembang bersama berbagai kebiasaan masyarakat Tionghoa dari masa ke masa. Ada pula sebuah cerita rakyat yang mengaitkan penggunaan kertas di makam dengan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming (1368–1644). Konon, Zhu Yuanzhang berasal dari keluarga miskin. Setelah kehilangan orang tuanya, ia meninggalkan kampung halaman dan kemudian bergabung dalam pemberontakan melawan Dinasti Yuan (1271–1368). Ia akhirnya berhasil menjadi kaisar. Ketika kembali ke kampung halamannya, ia ingin mencari makam kedua orang tuanya. Namun, karena sudah lama meninggalkan desa, ia tidak mengetahui makam mereka. Dalam cerita tersebut, Zhu Yuanzhang kemudian memerintahkan masyarakat untuk membersihkan makam leluhur dan meletakkan kertas berwarna kuning sebagai tanda. Makam yang memiliki tanda tersebut kemudian dianggap sebagai makam yang telah diziarahi. Perlu dicatat, kisah Zhu Yuanzhang ini lebih tepat dipahami sebagai legenda atau cerita rakyat, bukan sebagai satu-satunya penjelasan sejarah mengenai asal-usul tradisi Ceng Beng. Lalu, Apa Makna Kertas di Atas Makam? Kertas yang digunakan saat Ceng Beng sering disebut sebagai bagian dari ritual penghormatan kepada leluhur. Dalam tradisi tertentu, kertas tersebut dibakar sebagai simbol pemberian atau bekal bagi orang yang telah meninggal. Namun praktiknya tidak selalu sama. Jenis kertas, cara penggunaannya, hingga ritual yang dilakukan dapat berbeda-beda menurut keluarga, daerah, dan kepercayaan masing-masing. Karena itu, tidak semua keluarga Tionghoa melakukan ritual Ceng Beng dengan cara yang persis sama. Yang tetap menjadi inti adalah mengenang dan menghormati mereka yang telah lebih dahulu pergi. Ceng Beng Bukan Sekadar Membersihkan Makam Jika dilihat lebih jauh, Ceng Beng bukan hanya tentang membersihkan makam. Ini juga menjadi salah satu momen ketika keluarga berkumpul. Orang-orang yang mungkin sepanjang tahun sibuk dengan kehidupan masing-masing kembali bertemu, pergi bersama ke makam leluhur, dan mengingat kembali anggota keluarga yang sudah tidak ada. Di dalamnya ada nilai tentang keluarga, ingatan, dan hubungan antargenerasi. Cara setiap keluarga menjalankannya pun bisa berbeda, ada yang menjalankan seluruh rangkaian ritual, ada yang menyederhanakannya, dan ada pula yang menyesuaikannya dengan keyakinan mereka. Ketika Ceng Beng Bertemu Budaya Indonesia Lalu, bagaimana tradisi yang berasal dari masyarakat Tionghoa bisa menjadi bagian dari kehidupan di Indonesia? Jawabannya tidak lepas dari sejarah panjang masyarakat Tionghoa di Nusantara. Selama berabad-abad, masyarakat Tionghoa datang, berdagang, menetap, dan membangun keluarga di berbagai wilayah Nusantara. Dalam prosesnya, tradisi yang mereka bawa tidak hidup dalam ruang kosong. Ia bertemu dengan bahasa, kebiasaan, lingkungan, dan budaya setempat. Karena itu, Ceng Beng yang dilakukan di Indonesia tidak selalu persis sama dengan praktik Qingming di Tiongkok. Setiap daerah dan keluarga dapat memiliki cara masing-masing. Ada yang mempertahankan ritual secara lengkap. Ada yang menyederhanakannya. Ada pula yang menjalankannya dengan kebiasaan keluarga yang sudah berkembang selama beberapa generasi di Indonesia. Di sinilah sebuah tradisi bisa berubah tanpa harus kehilangan nilai dasarnya. Tradisi dapat berpindah tempat, beradaptasi, dan tetap hidup dalam bentuk yang baru. Ceng Beng akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang tradisi Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Tionghoa-Indonesia yang tumbuh dan hidup di Nusantara. Bukan tentang satu budaya menggantikan budaya lainnya. Tetapi tentang bagaimana berbagai tradisi hidup berdampingan, beradaptasi, dan menemukan bentuknya sendiri di tempat baru. Mungkin pada akhirnya, Ceng Beng bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di depan sebuah makam. Tetapi tentang pertanyaan yang lebih sederhana: Dari mana kita berasal? Siapa saja yang pernah berjalan sebelum kita? Dan ketika kehidupan terus bergerak maju, apakah kita masih mengingat mereka yang membuat kita bisa sampai di sini? Mungkin itulah alasan mengapa tradisi seperti Ceng Beng tetap bertahan, karena manusia tidak hanya hidup dari apa yang ada di depan mereka. Kita juga hidup dari ingatan tentang mereka yang datang sebelum kita.

Rio ChanRio Chan6 hari yang lalu0
1
Sejarah & Budaya

“Ini Budi” Masih Ingat? Tapi, Tahukah Kamu Siapa Sosok di Baliknya?

Ada yang ingat dengan kalimat ini? “Ini Budi.” “Ini Ibu Budi.” “Ini Bapak Budi.” Bagi sebagian besar dari kita, kalimat sederhana itu mungkin langsung membawa kembali ingatan saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Buku pelajaran, gambar keluarga sederhana, dan kalimat-kalimat pendek yang dulu membantu kita belajar membaca. Tapi pernah nggak kita berhenti sebentar dan berpikir: Siapa sosok di baliknya? Siapa yang membuat Budi? Salah satu nama yang kemudian muncul dalam sejarahnya adalah Siti Rahmani Rauf. Mungkin nama ini terdengar asing bagi sebagian besar dari kita. Padahal, Siti adalah seorang guru yang dikenal sebagai sosok penting dalam pengembangan alat peraga pembelajaran membaca yang menggunakan tokoh Budi dan keluarganya. Ia menggunakan metode SAS “ Struktur Analitik Sintetik”, sebuah metode untuk mengajarkan anak membaca dengan cara yang berbeda dari metode mengeja biasa. Sederhananya, anak diperkenalkan terlebih dahulu pada sebuah kalimat utuh: “Ini Budi.” Kemudian kalimat tersebut diuraikan: Ini | Budi Kemudian menjadi bagian yang lebih kecil: I-ni | Bu-di Dan setelah itu disusun kembali menjadi kalimat utuh. Struktur → Analitik → Sintetik. Jadi, kalimat sederhana seperti “Ini Budi” sebenarnya bukan sekadar kalimat yang kita hafal waktu kecil. Tetapi ada metode pembelajaran di baliknya. Namun semakin ditelusuri, ceritanya ternyata tidak sesederhana: “Siti Rahmani Rauf adalah pencipta Ini Budi.” Menurut penuturan keluarganya, ketika Siti mendapat proyek dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, buku paket yang menggunakan materi Budi sebenarnya sudah ada. Peran Siti lebih kepada membuat dan mengembangkan alat peraga pembelajaran membaca, yang kemudian membuat metode tersebut semakin hidup di ruang kelas. Bahkan secara bibliografis, buku yang kemudian populer di masyarakat sebagai “buku Ini Budi” tercatat sebagai Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 1, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan dikaitkan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar. Dan dari sini justru muncul pertanyaan yang lebih besar: Kalau Siti bukan satu-satunya orang di balik Budi, lalu siapa sebenarnya yang pertama kali membuatnya? Siapa yang pertama kali menulis: “Ini Budi.” Siapa yang memilih nama Budi? Siapa yang membuat ilustrasinya? Siapa yang menyusun buku pertamanya? Siapa yang mengembangkan metode pembelajarannya? Dan bagaimana semuanya bisa tersebar begitu luas hingga menjadi bagian dari ingatan jutaan anak Indonesia? Yang paling membuat saya penasaran justru bukan Budi. Tapi Siti Rahmani Rauf. Bagaimana mungkin seseorang yang berkontribusi pada sesuatu yang begitu dikenal oleh jutaan anak Indonesia justru hampir tidak dikenal oleh generasi yang pernah menggunakannya? Kita bisa mengingat Budi. Kita bisa mengingat Ibu Budi. Kita bahkan masih bisa mengucapkan kalimatnya puluhan tahun kemudian. Tetapi ketika ditanya: “Siapa yang membuatnya?” Sebagian besar dari kita mungkin tidak tahu jawabannya. Dan ironisnya, Siti Rahmani Rauf baru mulai dikenal luas oleh publik ketika usianya sudah sangat lanjut, terutama ketika kisahnya diberitakan pada 2016. Media mulai mencari sosok di balik “Ini Budi”, dan masyarakat baru mengetahui bahwa di balik materi yang begitu familiar ternyata ada seorang guru bernama Siti Rahmani Rauf. Siti kemudian meninggal pada 10 Mei 2016. Ada sebuah ironi yang sulit diabaikan: Saat karya itu hidup di kepala jutaan anak Indonesia, penciptanya nyaris tidak dikenal. Dan setelah beliau meninggal, pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang berada di balik “Ini Budi” justru semakin sulit dijawab. Mungkin masalahnya bukan karena orang Indonesia tidak peduli. Mungkin karena sejak awal kita tidak pernah diajarkan untuk mencari siapa yang berada di balik sebuah karya. Buku itu hadir sebagai buku pelajaran pemerintah. Metodenya hadir sebagai bagian dari sistem pendidikan. Dan mungkin justru karena kalimat itu begitu sederhana, kita tidak pernah berpikir bahwa ada sejarah panjang di baliknya. Mungkin juga, “Ini Budi” bukanlah cerita tentang satu orang. Melainkan cerita tentang banyak orang yang pernah berkontribusi pada lahirnya sebuah karya, tetapi namanya perlahan hilang dari ingatan. Dan mungkin, di balik tiga kata sederhana “Ini Budi” ada nama-nama yang selama puluhan tahun menunggu untuk kembali ditemukan. Sumber: • Detik — Menengok Siti Rahmani Rauf, Sosok di Balik Buku “Ini Budi” yang Melegenda • Detik — Ide Besar di Balik Kesederhanaan Buku “Ini Budi” dari Siti Rahmani • Liputan6 — Benarkah Nenek Rauf Bukan Pencetus Metode Baca “Ini Budi”? • CiNii Books — Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 1 • Detik — Kabar Duka, “Ibu Budi” Siti Rahmani Rauf Meninggal Dunia

Rio ChanRio Chan8 hari yang lalu1
0
Halaman 2 dari 2