Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Sejarah & Budaya

Cerita sejarah, budaya, tradisi, situs, dan jejak Nusantara.

Sejarah & Budaya

“Gamelan: Tak Ada yang Harus Menjadi Paling Keras.”

Apa jadinya jika semua alat musik ingin menjadi yang paling keras? Mungkin yang terdengar bukan lagi musik, melainkan kebisingan. Namun, gamelan justru bekerja dengan cara yang berbeda. Di dalamnya ada gong, kendang, saron, bonang, kenong, dan berbagai instrumen lain yang memiliki suara serta perannya masing-masing. Tidak semuanya harus menjadi pusat perhatian. Ada yang memimpin, ada yang mengisi, ada yang memberi penanda, dan ada pula yang justru terdengar menonjol hanya pada saat tertentu. Dari situlah gamelan menjadi lebih dari sekadar musik. Gamelan telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Jawa dan berkembang dalam berbagai lingkungan, mulai dari keraton, pertunjukan wayang, upacara adat, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari. Musiknya bukan hanya dimainkan untuk didengar, tetapi hadir dalam berbagai peristiwa budaya dan sosial. Yang menarik, kekuatan gamelan justru terletak pada kebersamaan. Satu instrumen mungkin terdengar sederhana ketika dimainkan sendiri. Namun ketika berpadu dengan instrumen lain, muncul sebuah komposisi yang jauh lebih utuh. Setiap pemain harus memahami bagiannya, mengikuti ritme, dan memberi ruang kepada suara yang lain. Tidak ada kebutuhan untuk selalu menjadi yang paling menonjol, dan mungkin di situlah gamelan terasa semakin relevan hari ini. Di tengah kehidupan yang membuat semua orang berlomba untuk berbicara, tampil, dan mendapatkan perhatian, gamelan mengingatkan kita bahwa harmoni tidak lahir karena satu suara menjadi paling dominan. Harmoni muncul ketika setiap suara tahu kapan harus berbicara, kapan harus mengikuti, dan kapan harus memberi ruang. Ironisnya, kita hidup di zaman dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih, tetapi kemampuan untuk benar-benar mendengarkan justru sering terasa semakin sulit. Gamelan telah memainkan pelajaran itu jauh sebelum media sosial hadir “berbeda suara bukan berarti harus saling mengalahkan.” Mungkin karena itu, gamelan tidak seharusnya dilihat hanya sebagai peninggalan masa lalu. Ia adalah warisan yang masih menyimpan sesuatu yang sangat dibutuhkan masa kini—tentang keseimbangan, kebersamaan, dan pentingnya menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Sebab pada akhirnya, musik yang indah bukanlah tentang siapa yang paling keras terdengar. Melainkan tentang bagaimana banyak suara yang berbeda bisa menciptakan satu harmoni. #sejarahbudaya #sejarah-budaya

MMentari Senjasekitar 14 jam yang lalu0
1
Sejarah & Budaya

NUSANTARA KAYA BUDAYA, TAPI MISKIN ASET DIGITAL?

Siapa yang Akan Membangun Nusantara di Dunia Virtual? Indonesia selalu bangga mengatakan: “Kita adalah bangsa yang kaya budaya.” Ribuan artefak. Ratusan rumah adat. Candi. Arca. Keris. Kapal tradisional. Relief. Tekstil. Senjata. Topeng. Ornamen. Manuskrip. Arsitektur kerajaan. Cerita rakyat. Mitologi. Tetapi coba lakukan eksperimen sederhana. Buka marketplace aset digital internasional. Cari: Japanese Temple. Banyak. Samurai. Banyak. Viking Village. Banyak. Medieval European Castle. Banyak. Chinese Ancient Architecture. Banyak. Sekarang cari: Majapahit Palace. Sriwijaya Port. Ternate Sultanate. Gowa-Tallo Kingdom. Borobudur Relief Character. Majapahit Soldier. Traditional Indonesian Village. Berapa banyak yang benar-benar siap digunakan untuk produksi game? Di sinilah paradoksnya. Nusantara kaya secara fisik, tetapi masih miskin secara digital. Kita memiliki warisan budaya selama berabad-abad, tetapi sebagian besar masih berada dalam bentuk benda, bangunan, foto, buku, arsip dan dokumentasi. Sementara dunia sedang bergerak menuju: game, XR, immersive experience, virtual production, digital twin, AI, metaverse, film CGI dan spatial computing. Indonesia selalu membanggakan diri sebagai bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Kita memiliki ribuan artefak, candi, arca, relief, rumah adat, senjata tradisional, tekstil, kapal, manuskrip, arsitektur kerajaan, hingga cerita dan mitologi dari ratusan kelompok budaya. Tetapi ada paradoks yang menarik: Nusantara sangat kaya secara budaya, tetapi masih miskin secara digital. Cobalah mencari aset digital yang benar-benar siap digunakan untuk produksi game, film CGI, virtual production, immersive exhibition, atau Unreal Engine. Kita relatif mudah menemukan Japanese Temple, Samurai, Viking Village, Medieval Castle, atau Ancient Chinese Architecture. Tetapi ketika mencari Majapahit Palace, Sriwijaya Port, Ternate Sultanate, Gowa-Tallo Kingdom, Majapahit Soldier, atau rekonstruksi kota-kota Nusantara masa lalu, pilihannya jauh lebih terbatas. Pertanyaannya sederhana tetapi mengganggu: kalau kebudayaan kita memang begitu kaya, mengapa representasi digitalnya begitu sulit ditemukan? Mungkin masalah kita sebenarnya bukan kekurangan budaya, melainkan kegagalan mengubah kekayaan budaya menjadi infrastruktur digital yang dapat digunakan kembali. Selama ini kita sangat familiar dengan istilah pelestarian, konservasi, dokumentasi, penelitian, dan museumisasi. Semua itu penting, tetapi dunia sedang bergerak jauh lebih cepat menuju game, XR, digital twin, AI, virtual production, spatial computing, dan berbagai bentuk pengalaman immersive. Artefak yang hanya tersimpan sebagai benda, foto, katalog, atau dokumentasi tentu memiliki nilai sejarah, tetapi belum otomatis menjadi bahan baku industri kreatif digital. Seorang game developer yang ingin membangun dunia Majapahit tidak cukup hanya membaca buku sejarah. Ia membutuhkan model 3D arsitektur, karakter, kostum, senjata, kendaraan, lingkungan, tekstur, material PBR, animasi, hingga referensi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih kontroversial: apakah selama ini kita terlalu sibuk melestarikan budaya, tetapi belum serius mengindustrialisasikan budaya? Bangsa lain telah menunjukkan bagaimana sejarah dan mitologi dapat berkembang menjadi kekuatan budaya sekaligus ekonomi. Samurai tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah Jepang; ia berkembang menjadi game, anime, manga, film, karakter, merchandise, dan berbagai intellectual property bernilai global. Mitologi Nordik tidak hanya hidup di museum dan buku sejarah, tetapi menjadi bahan baku film serta industri game bernilai miliaran dolar. Sementara Nusantara memiliki Majapahit, Sriwijaya, Singhasari, Mataram, Samudra Pasai, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore dan ratusan tradisi lokal dengan kekayaan visual yang luar biasa. Kita memiliki ceritanya, tetapi belum cukup memiliki infrastrukturnya. Akibatnya, ketika industri membutuhkan dunia Nusantara, proses produksi sering kali harus dimulai hampir dari nol. Persoalan ini menjadi semakin serius ketika AI berkembang. AI generatif bekerja berdasarkan data dan representasi digital yang tersedia. Bayangkan beberapa tahun mendatang seseorang cukup menulis perintah, “Create an ancient Southeast Asian kingdom,” lalu AI membangun seluruh dunianya. Jika data tentang arsitektur, pakaian, artefak, karakter, dan sejarah Nusantara jauh lebih sedikit dibandingkan data budaya Jepang, China, Eropa, atau kawasan lainnya, pertanyaannya adalah: budaya siapa yang akhirnya akan mendominasi imajinasi mesin? Bisa jadi kita tetap menjadi bangsa yang sangat kaya secara sejarah, tetapi justru miskin secara algoritmik. Nusantara ada di museum, buku, dan situs arkeologi, tetapi tidak cukup hadir di dalam dataset, marketplace digital, game engine, dan ekosistem AI yang sedang membentuk kebudayaan masa depan. Karena itu digitalisasi budaya seharusnya tidak berhenti pada memindai artefak atau membuat dokumentasi digital. Tantangannya adalah bagaimana mengubah cultural heritage menjadi digital asset, kemudian menjadi bahan produksi kreatif, intellectual property, produk, dan akhirnya nilai budaya sekaligus ekonomi. Di sinilah persoalan tata kelola menjadi penting: siapa yang harus membangun ekosistem tersebut? Pemerintah, museum, kampus, seniman, arkeolog, game developer, atau perusahaan swasta? Haruskah aset budaya dibuka secara gratis sebagai open cultural assets, atau boleh dikomersialisasikan agar ekosistemnya berkelanjutan? Siapa yang menentukan sebuah rekonstruksi 3D dianggap akurat secara sejarah? Dan bagaimana mencegah digitalisasi Nusantara berubah menjadi sekadar estetika eksotis yang mencampur berbagai kebudayaan tanpa konteks sejarah yang benar? Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi sekadar “mengapa aset digital Nusantara sulit ditemukan di internet?” Pertanyaannya jauh lebih besar: siapa yang akan memiliki, mengelola, dan menentukan representasi digital Nusantara di masa depan? Jika kita tidak membangun representasi digital kebudayaan kita sendiri, sangat mungkin suatu hari dunia mengenal Nusantara melalui interpretasi algoritma, perusahaan, atau kreator dari luar Nusantara. Kita mungkin mempunyai salah satu kekayaan budaya terbesar di dunia, tetapi kekayaan budaya tanpa sistem produksi, distribusi, dan pengelolaan digital hanya akan menjadi potensi yang terus kita banggakan tanpa pernah benar-benar menjadi kekuatan. Kita tidak kekurangan cerita; kita kekurangan keberanian dan sistem untuk mengubah cerita itu menjadi infrastruktur digital masa depan.

WiyanWiyansekitar 1 bulan yang lalu3
2
Sejarah & Budaya

Ketika Pernikahan Jadi Ajang Gengsi, Adat Harus Dibayar Dengan Utang

Di banyak masyarakat Indonesia, pernikahan bukan sekadar pertemuan dua orang. Ia adalah pertemuan dua keluarga, dua rumpun kerabat, dan sebuah rangkaian adat yang diwariskan lintas generasi. Dan satu hal yang paling banyak menarik perhatian adalah Belis. Belis memiliki makna penting di dalamnya. Ia dapat menjadi bentuk penghargaan kepada keluarga perempuan, tanda keseriusan, sekaligus bagian dari ikatan sosial antarkeluarga. Bahkan dalam sejumlah kajian, besarnya belis dikaitkan dengan penghargaan dan status sosial perempuan. Masalahnya muncul ketika sesuatu yang awalnya memiliki makna budaya berubah menjadi ukuran gengsi keluarga. Pernikahan kemudian bukan lagi hanya tentang bagaimana dua orang membangun rumah tangga, tetapi bagaimana pesta terlihat di mata keluarga besar, kerabat dan lingkungan sekitar. Hewan harus tersedia. Belis harus dipenuhi. Pesta harus layak. Undangan harus banyak. Jangan sampai pernikahan anak terlihat “biasa-biasa saja”. Padahal setelah pesta selesai, kehidupan baru justru dimulai. Di sinilah ironi itu muncul. Sebuah penelitian mengenai perkawinan adat Suku Lio di Ende Timur menemukan bahwa tuntutan belis yang tinggi dapat membuat keluarga yang tidak mampu mengambil jalan meminjam uang, sehingga muncul utang-piutang. Dalam penelitian tersebut, tingginya belis juga disebut dapat menjadi penghambat kesiapan seseorang untuk menikah. Artinya, pesta yang hanya berlangsung sehari bisa meninggalkan beban ekonomi jauh lebih panjang. Dan persoalannya bukan semata-mata adat karena Adat tidak pernah berdiri sendirian. Ia hidup bersama manusia yang menjalankannya. Ketika kemampuan ekonomi keluarga berubah, seharusnya ada ruang untuk bernegosiasi dimana yang benar-benar merupakan nilai adat dan mana yang sebenarnya hanya tuntutan sosial. Sebab mempertahankan budaya tidak harus berarti mempertahankan semua bentuk pengeluaran yang berkembang di sekitarnya. Kalau sebuah keluarga harus berutang bertahun-tahun hanya agar pernikahan anak terlihat “layak” di mata orang lain, kita perlu berhenti sejenak dan melihat kembali makna pernikahan itu sendiri. Apakah kita sedang menjaga adat, atau sedang menjaga gengsi atas nama adat?

H i MH i Msekitar 12 jam yang lalu0
3
Sejarah & Budaya

Disebut Bir, Tapi Tak Pernah Memabukkan

Bagaimana mungkin sebuah minuman disebut bir, tetapi tidak mengandung alkohol? Jawabannya ada dalam Bir Pletok, minuman khas Betawi yang justru menunjukkan bagaimana sebuah budaya bisa mengambil pengaruh dari luar, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang benar-benar miliknya sendiri. Pada masa kolonial, masyarakat Betawi hidup berdampingan dengan berbagai kebudayaan, termasuk kebiasaan masyarakat Eropa yang mengonsumsi bir. Namun, minuman itu tidak begitu saja menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Dari pertemuan budaya tersebut, lahirlah versi yang berbeda: minuman berbahan rempah seperti jahe, serai, kayu manis, cengkeh, secang, dan berbagai rempah lainnya. Tidak ada alkohol. Tidak ada upaya untuk sekadar meniru rasa bir Eropa, yang muncul justru sebuah minuman dengan cita rasa rempah yang sangat dekat dengan lingkungan dan selera masyarakat Betawi. Di situlah menariknya Bir Pletok. Namanya mungkin mengingatkan kita pada budaya Eropa, tetapi isinya justru membawa kita kembali kepada Nusantara. Ini bukan sekadar cerita tentang minuman. Bir Pletok memperlihatkan bahwa ketika budaya bertemu, hasilnya tidak selalu berupa budaya yang menggantikan budaya lain. Terkadang, masyarakat justru mengambil sesuatu dari luar, mengolahnya, dan memberinya identitas baru. Karena itu, pertanyaan tentang Bir Pletok bukan hanya “Mengapa disebut bir?” Tetapi juga: “Bukankah begitulah budaya bekerja?” Budaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang benar-benar baru. Ia bisa tumbuh dari pertemuan, pengaruh, penyesuaian, bahkan dari sesuatu yang awalnya dianggap asing. Bir Pletok akhirnya bukan menjadi bir seperti yang diminum orang Eropa. Ia menjadi Bir Pletok—sebuah minuman yang kemudian melekat sebagai bagian dari identitas Betawi dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Mungkin justru di situlah ironi sekaligus kekuatannya. Bir yang tidak memabukkan, tetapi justru membuat kita semakin mengenal siapa diri kita. #sejarahbudaya #sejarah-budaya

Rio ChanRio Chan4 hari yang lalu0
1
Sejarah & Budaya

81 Tahun Merdeka. Tapi, Apakah Kita Masih Mengenal Budaya Sendiri?

Kita tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kota-kota berkembang, teknologi semakin maju, dan dunia terasa semakin dekat. Hari ini, kita bisa mengenal budaya dari berbagai belahan dunia hanya melalui layar. Kita tahu musik dari Korea. Menonton film dari Amerika. Mengikuti tren dari Jepang. Menggunakan istilah-istilah dari berbagai negara. Dan itu bukan sesuatu yang salah. Justru keterbukaan terhadap dunia adalah bagian dari perkembangan zaman. Namun, di tengah semua itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana: Seberapa jauh kita masih mengenal budaya kita sendiri? Apakah kita masih tahu mengapa sebuah tarian diciptakan? Mengapa rumah tradisional dibangun dengan bentuk tertentu? Apa makna di balik sebuah motif batik? Mengapa masyarakat di suatu daerah memiliki upacara dan tradisi tertentu? Atau jangan-jangan, kita hanya mengenal budaya sendiri ketika budaya itu sedang viral, ramai dibicarakan di media sosial, atau ketika muncul perdebatan tentang siapa yang memilikinya? Padahal, Indonesia bukan hanya memiliki satu budaya. Ada ribuan tradisi, bahasa, kesenian, cerita, pengetahuan, dan cara hidup yang lahir dari pengalaman masyarakat selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Namun, budaya tidak akan bertahan hanya karena kita memiliki warisan. Warisan harus dikenali untuk bisa diteruskan. Dan di sinilah seni dan budaya menjadi penting. Belajar budaya bukan berarti kita harus hidup seperti orang zaman dahulu. Bukan pula berarti semua tradisi harus dipertahankan tanpa perubahan. Justru sebaliknya, dengan mengenal akar budaya, kita bisa memahami apa yang layak dipertahankan, apa yang perlu dikembangkan, dan apa yang mungkin harus ditinggalkan. Karena budaya bukan benda mati. Budaya terus berubah bersama manusia yang menjalaninya. Batik bisa masuk ke dunia fashion modern. Musik tradisional bisa bertemu dengan musik digital. Cerita rakyat bisa menjadi film, game, atau animasi. Arsitektur tradisional bisa menginspirasi desain masa kini. Dan pengetahuan lokal bisa kembali menjadi sumber gagasan untuk menghadapi persoalan-persoalan modern. Jadi, setelah 81 tahun merdeka, mungkin pertanyaannya bukan lagi: “Apakah seni dan budaya masih relevan?” Tetapi: “Apakah kita masih cukup mengenal budaya sendiri untuk membawanya ke masa depan?” Sebab, bangsa yang kehilangan budayanya mungkin masih bisa berdiri. Tetapi bangsa yang tidak lagi mengenal akar budayanya akan semakin sulit menjawab satu pertanyaan penting: “Siapa kita?” Kemerdekaan memberi kita kebebasan untuk menentukan masa depan. Tetapi untuk menentukan ke mana kita akan pergi, mungkin kita juga perlu tahu "Dari mana kita berasal".

CamaroCamaro5 hari yang lalu0
1
Sejarah & Budaya

Ceng Beng di Indonesia: Ketika Tradisi Tionghoa Bertemu Nusantara

Setiap tahun masyarakat Tionghoa memperingati Ceng Beng atau Qingming (清明), sebuah tradisi untuk mengunjungi dan menghormati makam leluhur. Tradisi ini biasanya dilakukan sekitar tanggal 4–6 April setiap tahun. Tanggalnya dapat sedikit berubah dari tahun ke tahun karena mengikuti perhitungan Qingming, salah satu dari 24 istilah musim (solar terms) dalam kalender tradisional Tiongkok. Pada tahun 2026, Ceng Beng jatuh pada 5 April lalu. Pada saat Ceng Beng, keluarga biasanya datang ke makam leluhur untuk membersihkan area makam, berdoa atau melakukan pai, serta membawa buah, kue, makanan, dan bunga. Tapi ada satu hal yang mungkin pernah kita lihat: Setelah makam dibersihkan, mengapa sering ada kertas berwarna kuning atau perak yang diletakkan di atas makam? Dan sebenarnya, dari mana tradisi Ceng Beng ini berasal? Dari Mana Tradisi Ceng Beng Berasal? Ceng Beng dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa untuk mengenang dan menghormati leluhur. Tradisi ini memiliki sejarah panjang dan berkembang bersama berbagai kebiasaan masyarakat Tionghoa dari masa ke masa. Ada pula sebuah cerita rakyat yang mengaitkan penggunaan kertas di makam dengan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming (1368–1644). Konon, Zhu Yuanzhang berasal dari keluarga miskin. Setelah kehilangan orang tuanya, ia meninggalkan kampung halaman dan kemudian bergabung dalam pemberontakan melawan Dinasti Yuan (1271–1368). Ia akhirnya berhasil menjadi kaisar. Ketika kembali ke kampung halamannya, ia ingin mencari makam kedua orang tuanya. Namun, karena sudah lama meninggalkan desa, ia tidak mengetahui makam mereka. Dalam cerita tersebut, Zhu Yuanzhang kemudian memerintahkan masyarakat untuk membersihkan makam leluhur dan meletakkan kertas berwarna kuning sebagai tanda. Makam yang memiliki tanda tersebut kemudian dianggap sebagai makam yang telah diziarahi. Perlu dicatat, kisah Zhu Yuanzhang ini lebih tepat dipahami sebagai legenda atau cerita rakyat, bukan sebagai satu-satunya penjelasan sejarah mengenai asal-usul tradisi Ceng Beng. Lalu, Apa Makna Kertas di Atas Makam? Kertas yang digunakan saat Ceng Beng sering disebut sebagai bagian dari ritual penghormatan kepada leluhur. Dalam tradisi tertentu, kertas tersebut dibakar sebagai simbol pemberian atau bekal bagi orang yang telah meninggal. Namun praktiknya tidak selalu sama. Jenis kertas, cara penggunaannya, hingga ritual yang dilakukan dapat berbeda-beda menurut keluarga, daerah, dan kepercayaan masing-masing. Karena itu, tidak semua keluarga Tionghoa melakukan ritual Ceng Beng dengan cara yang persis sama. Yang tetap menjadi inti adalah mengenang dan menghormati mereka yang telah lebih dahulu pergi. Ceng Beng Bukan Sekadar Membersihkan Makam Jika dilihat lebih jauh, Ceng Beng bukan hanya tentang membersihkan makam. Ini juga menjadi salah satu momen ketika keluarga berkumpul. Orang-orang yang mungkin sepanjang tahun sibuk dengan kehidupan masing-masing kembali bertemu, pergi bersama ke makam leluhur, dan mengingat kembali anggota keluarga yang sudah tidak ada. Di dalamnya ada nilai tentang keluarga, ingatan, dan hubungan antargenerasi. Cara setiap keluarga menjalankannya pun bisa berbeda, ada yang menjalankan seluruh rangkaian ritual, ada yang menyederhanakannya, dan ada pula yang menyesuaikannya dengan keyakinan mereka. Ketika Ceng Beng Bertemu Budaya Indonesia Lalu, bagaimana tradisi yang berasal dari masyarakat Tionghoa bisa menjadi bagian dari kehidupan di Indonesia? Jawabannya tidak lepas dari sejarah panjang masyarakat Tionghoa di Nusantara. Selama berabad-abad, masyarakat Tionghoa datang, berdagang, menetap, dan membangun keluarga di berbagai wilayah Nusantara. Dalam prosesnya, tradisi yang mereka bawa tidak hidup dalam ruang kosong. Ia bertemu dengan bahasa, kebiasaan, lingkungan, dan budaya setempat. Karena itu, Ceng Beng yang dilakukan di Indonesia tidak selalu persis sama dengan praktik Qingming di Tiongkok. Setiap daerah dan keluarga dapat memiliki cara masing-masing. Ada yang mempertahankan ritual secara lengkap. Ada yang menyederhanakannya. Ada pula yang menjalankannya dengan kebiasaan keluarga yang sudah berkembang selama beberapa generasi di Indonesia. Di sinilah sebuah tradisi bisa berubah tanpa harus kehilangan nilai dasarnya. Tradisi dapat berpindah tempat, beradaptasi, dan tetap hidup dalam bentuk yang baru. Ceng Beng akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang tradisi Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Tionghoa-Indonesia yang tumbuh dan hidup di Nusantara. Bukan tentang satu budaya menggantikan budaya lainnya. Tetapi tentang bagaimana berbagai tradisi hidup berdampingan, beradaptasi, dan menemukan bentuknya sendiri di tempat baru. Mungkin pada akhirnya, Ceng Beng bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di depan sebuah makam. Tetapi tentang pertanyaan yang lebih sederhana: Dari mana kita berasal? Siapa saja yang pernah berjalan sebelum kita? Dan ketika kehidupan terus bergerak maju, apakah kita masih mengingat mereka yang membuat kita bisa sampai di sini? Mungkin itulah alasan mengapa tradisi seperti Ceng Beng tetap bertahan, karena manusia tidak hanya hidup dari apa yang ada di depan mereka. Kita juga hidup dari ingatan tentang mereka yang datang sebelum kita.

Rio ChanRio Chan6 hari yang lalu0
1
Halaman 1 dari 2