Karya Seni Mahal Itu Benar-Benar Bernilai, atau Kita Cuma Sepakat Bahwa Ia Mahal?

Saya kadang berpikir aneh melihat pasar seni. Sebuah lukisan bisa dijual Rp5 juta. Lukisan lain bisa Rp5 miliar. Bahkan ratusan miliar. Pertanyaan saya sederhana: Apa yang membuat karya kedua nilainya ribuan kali lebih mahal? Apakah tekniknya ribuan kali lebih bagus? Apakah proses kreatifnya ribuan kali lebih sulit? Apakah ide senimannya ribuan kali lebih cerdas? Belum tentu. Karena ketika kita bicara pasar seni, ternyata yang diperjualbelikan bukan cuma karya. Ada nama seniman. Ada galeri. Ada kurator. Ada kolektor. Ada pameran. Ada media. Ada rumah lelang. Ada reputasi. Ada sejarah kepemilikan. Ada kelangkaan. Ada gengsi. Dan tentu saja ada satu makhluk yang selalu ikut campur dalam hampir semua urusan manusia: uang.
Jean Baudrillard punya cara menarik untuk membaca persoalan seperti ini. Sebuah benda tidak hanya punya use value atau nilai guna dan exchange value atau nilai tukar. Dalam masyarakat konsumsi, benda juga bisa memiliki sign value, nilai sebagai tanda. Artinya, orang tidak selalu membeli benda karena bendanya. Orang bisa membeli status, identitas, prestise, simbol, dan cerita yang menempel pada benda tersebut. Jam tangan Rp2 juta dan Rp2 miliar sama-sama menunjukkan waktu. Lalu apa yang dibeli dari selisih Rp1,998 miliar itu? Ya jelas bukan tambahan kemampuan membaca jam. Logika yang mirip bisa terjadi dalam seni.
Sebuah kanvas mungkin secara material hanya terdiri dari kain, cat, dan bingkai. Tetapi ketika nama seniman tertentu ditempelkan kepadanya, masuk galeri tertentu, dikurasi orang tertentu, dikoleksi orang tertentu, lalu dilelang di tempat tertentu, objek yang sama memperoleh lapisan nilai simbolik yang luar biasa besar. Galeri memberi legitimasi. Kurator membangun narasi. Kolektor menciptakan demand. Media memperbesar citra. Rumah lelang menciptakan referensi harga. Pasar mengukuhkannya. Lalu kita semua melihat angka itu dan berkata: “Berarti memang mahal.” Nah, di sini saya mulai curiga. Bukan curiga bahwa semua seni mahal itu omong kosong. Yang menarik justru pertanyaan: Siapa sebenarnya yang menciptakan nilai itu? Bayangkan ada dua karya yang secara visual hampir sama. Yang satu dibuat mahasiswa seni dan dijual Rp2 juta. Yang satu dibuat seniman terkenal, masuk galeri internasional, dibicarakan kritikus, dimiliki kolektor besar, kemudian dilelang Rp2 miliar. secara visual mungkin tidak berbeda jauh. Tetapi secara sosial, simbolik, dan ekonomi, keduanya seperti hidup di dua planet berbeda. Di sinilah Baudrillard menjadi menarik buat saya. Jangan-jangan yang kita konsumsi bukan lagi karya itu sendiri, tetapi citra tentang karya tersebut.
Kita membeli nama. Kita membeli cerita. Kita membeli legitimasi. Kita membeli status. Dan ketika citra itu menjadi lebih kuat daripada objeknya sendiri, kita mulai masuk ke wilayah simulacra.
Lalu saya punya pertanyaan yang lebih nakal.
Apakah sistem seperti ini juga bisa menjadi ruang yang nyaman untuk pencucian uang?
#galeri






