Seni Tradisional Dianggap Kuno, Tapi Seni Barat Disebut Modern
Ada sesuatu yang menarik dalam cara dunia memberi label pada seni. Karya tradisional sering disebut “kuno”, “etnik”, “primitif”, atau “kerajinan”. Sementara karya yang lahir dari tradisi seni Barat lebih mudah ditempatkan dalam kategori “modern” dan “kontemporer”. Masalahnya bukan sekadar istilah. Di balik label tersebut terdapat hierarki cara pandang seolah-olah ada seni yang berada di depan dan ada seni yang tertinggal.
Istilah “primitif” sendiri punya sejarah panjang dalam kajian seni dan antropologi Eropa. Pada masa kolonial, berbagai karya masyarakat non-Eropa kerap dikategorikan sebagai primitive art. Benda yang bagi masyarakat asalnya memiliki fungsi ritual, sosial, bahkan spiritual, kemudian dipindahkan ke museum dan dibaca sebagai objek estetika.
Sebaliknya, perkembangan seni Eropa memiliki kategori sejarah yang lebih sistematis. Renaisans, Barok, Modernisme hingga Seni Kontemporer. Akibatnya, perubahan gaya di Barat sering dibaca sebagai perkembangan sejarah seni, sementara perubahan dalam tradisi lokal tidak selalu mendapatkan perlakuan yang sama.
Indonesia punya banyak contoh. Batik, ukiran, topeng, tenun, wayang, hingga seni pertunjukan tradisional tidak lahir sebagai sekadar dekorasi. Di dalamnya terdapat pengetahuan, simbol, aturan sosial, identitas, dan sejarah panjang masyarakat.
Ironisnya, ketika seorang seniman mengambil unsur tradisional lalu mengemasnya melalui galeri, instalasi, atau konsep kontemporer, karya tersebut bisa mendapatkan label “seni kontemporer”. Tetapi ketika masyarakat adat mempertahankan bentuk dan fungsi aslinya, karya itu justru lebih mudah dianggap sebagai “tradisi”. Di sinilah kritiknya, apakah yang berubah benar-benar seninya, atau hanya cara dunia melihatnya?
Kita juga perlu hati-hati. Bukan berarti semua kategori seni Barat salah atau semua seni tradisional harus dipertahankan tanpa perubahan. Seni memang berkembang. Persoalannya muncul ketika satu model perkembangan dianggap sebagai ukuran universal. Seni seharusnya tidak memiliki tangga yang membuat satu kebudayaan terlihat “lebih maju” daripada yang lain. Mungkin yang perlu diubah bukan karya seninya, tetapi kacamata yang kita gunakan untuk menilainya. Karena sesuatu tidak otomatis menjadi kuno hanya karena ia berasal dari tradisi, dan sesuatu tidak otomatis menjadi maju hanya karena disebut modern.






