numa
Seni & Kreatif

Siapa yang Menentukan Sebuah Karya Disebut Seni?

intan rasmitaintan rasmitaSider - 34 postingan15 hari yang laluDiperbarui 15 hari yang lalu

Dalam sejarah modern, penilaian seni banyak dibentuk oleh institusi seperti museum, galeri, akademi, kurator, kritikus, hingga pasar seni. Sistem ini berkembang kuat di Eropa dan kemudian menyebar menjadi salah satu standar global. Akibatnya, karya dari berbagai budaya sering dibaca menggunakan teori dan kategori yang lahir dari sejarah seni Barat.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Sebuah topeng ritual, ukiran, kain tradisional, atau benda upacara dari Nusantara bisa saja awalnya memiliki fungsi sosial dan spiritual. Ketika masuk museum, benda tersebut dapat berubah status menjadi “karya seni” atau “artefak budaya”. Labelnya berubah, cara orang melihatnya pun ikut berubah.

Pasar bahkan punya pengaruh yang lebih besar. Laporan The Art Basel and UBS Global Art Market Report 2025 mencatat nilai penjualan pasar seni global mencapai sekitar US$59,6 miliar pada 2024. Artinya, seni bukan hanya persoalan ekspresi, tetapi juga berada dalam ekosistem ekonomi bernilai besar.

Masalahnya bukan apakah Barat boleh menentukan standar seni. Masalahnya adalah ketika satu kerangka berpikir dianggap universal, sementara cara masyarakat lain memahami keindahan, fungsi, simbol, dan makna karya dianggap kurang modern. Mungkin sudah waktunya seni tidak hanya dinilai dari pertanyaan “apakah ini bagus?”, tetapi juga dari siapa yang membuat aturan tentang apa yang dianggap bagus. Karena dalam dunia seni, yang berkuasa menentukan label terkadang ikut menentukan sejarah.

06
intan rasmita

Balasan (0)

Topik Terkait