Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Seni & Kreatif

Ruang apresiasi seni rupa, pertunjukan, kriya, musik, dan karya.

Seni & Kreatif

Tari Cokek: Budaya yang Menjadi Identitas

Kita sering bertanya, “Seberapa asli budaya Indonesia?” Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun ketika melihat lebih dekat berbagai kesenian Nusantara, jawabannya ternyata tidak selalu mudah. Salah satunya adalah Tari Cokek, kesenian yang berkembang di lingkungan masyarakat Betawi, khususnya kawasan Jakarta dan Tangerang. Di balik gerakannya, Cokek menyimpan cerita tentang pertemuan berbagai budaya dan bagaimana pertemuan itu membentuk identitas baru. Ketika Budaya Bertemu Cokek berkembang di wilayah yang sejak dahulu menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat. Perdagangan dan perpindahan penduduk membuat bahasa, kebiasaan, musik, dan kesenian saling berinteraksi. Pengaruh budaya Tionghoa, misalnya, dapat dilihat dalam keterkaitan Cokek dengan Gambang Kromong, yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Betawi. Di sini kita melihat bahwa budaya tidak selalu tumbuh dalam ruang yang tertutup, ia bisa bertemu, berinteraksi, beradaptasi, lalu berubah menjadi sesuatu yang baru. Kalau Begitu, Cokek Milik Siapa? Pertanyaan ini menjadi menarik. Jika terdapat pengaruh budaya Tionghoa, apakah Cokek merupakan budaya Tionghoa? Jika berkembang dan diwariskan dalam masyarakat Betawi, apakah ia sepenuhnya budaya Betawi? Mungkin kita tidak harus memilih salah satunya. Sebuah budaya tidak selalu memiliki satu sumber. Ia bisa menjadi hasil perjalanan panjang yang melibatkan banyak kelompok masyarakat. Sesuatu yang awalnya merupakan pengaruh dari luar dapat diterima, diolah, dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Budaya Tidak Harus “Murni” Kita sering menggunakan kata “asli” ketika berbicara tentang budaya. Padahal, masyarakat Nusantara sejak dahulu tidak hidup dalam ruang yang sepenuhnya terpisah. Pelabuhan, pasar, dan pusat perdagangan menjadi tempat bertemunya manusia dari berbagai latar belakang. Mereka membawa makanan, bahasa, musik, tradisi, dan kebiasaan masing-masing. Ketika semua itu bertemu, yang lahir tidak selalu merupakan penggantian satu budaya oleh budaya lain. Sering kali, justru muncul bentuk budaya baru. Karena itu, keberagaman Nusantara bukan hanya tentang banyak kelompok yang memiliki budaya masing-masing, tetapi juga tentang bagaimana mereka saling memengaruhi. Jadi, Budaya Itu Milik Siapa? Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan: “Budaya ini sebenarnya milik siapa?” Melainkan: “Bagaimana budaya ini menjadi bagian dari kehidupan kita?” Tari Cokek mengingatkan kita bahwa identitas budaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang sepenuhnya murni dan terpisah dari pengaruh luar. Kadang, identitas justru lahir karena kita bertemu dengan yang berbeda, beradaptasi dengannya, lalu menjadikannya bagian dari perjalanan bersama. Dan mungkin, di situlah salah satu kekuatan budaya Nusantara, bukan karena ia tidak pernah berubah, tetapi karena ia mampu berubah tanpa kehilangan makna. #senikreatif

MMentari Senja5 hari yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Mengelola Orang di Dunia Kreatif: Antara Passion, Profesionalitas, dan AI --- PART 3

AI Datang, Terus Pekerja Kreatif Gimana? AI mulai masuk hampir ke semua proses kreatif. Bisa menghasilkan gambar, video, musik, teks, konsep, sampai membantu proses produksi. Tapi AI tetap tools. Sama seperti dulu Photoshop, kamera digital, Blender, After Effects, atau software lainnya. Masalah sebenarnya bukan siapa yang bisa menggunakan AI. Karena lama-lama semua orang juga bisa. Yang jauh lebih penting adalah apa yang bisa kita lakukan dengan tools tersebut. Kalau value seorang pekerja kreatif cuma sebatas mengoperasikan software, posisinya memang semakin mudah digantikan. Tapi kalau seseorang punya taste, pengalaman, kreativitas, kemampuan membaca masalah, kemampuan berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan, teknologi justru bisa memperkuat dirinya. Jadi pertanyaan tentang masa depan pekerja kreatif seharusnya bukan cuma: “Apakah AI bakal mengambil pekerjaan kita?” Pertanyaan yang lebih penting justru: “Apa value kita yang tidak gampang digantikan?” Masa Depan Kerja Kreatif Pada akhirnya, tantangan dunia seni bukan cuma bagaimana menghasilkan karya bagus. Ada manusia di belakang setiap karya. Ada freelancer yang harus memikirkan proyek berikutnya. Ada seniman yang mempertahankan idealismenya. Ada pekerja kreatif yang mengejar deadline. Ada organisasi yang harus mengelola tim. Ada persoalan upah, kesejahteraan, networking, teknologi, sampai perubahan cara kerja. Karena itu, mengelola orang di dunia kreatif tidak cukup hanya dengan mencari “siapa yang paling jago.” Yang dibutuhkan adalah ekosistem kerja yang bisa menjaga kreativitas, tapi tetap profesional. Memberi ruang untuk passion, tapi tidak menjadikannya alasan untuk eksploitasi. Terbuka terhadap teknologi, tapi tetap memahami bahwa teknologi hanyalah alat. Karena pada akhirnya, tools akan terus berubah. Yang menentukan tetap manusia yang tahu kenapa, kapan, dan untuk apa tools itu digunakan.

WiyanWiyan7 hari yang lalu0
2
Seni & Kreatif

Mengelola Orang di Dunia Kreatif: Antara Passion, Profesionalitas, dan AI --- PART 1

Kerja di Dunia Seni: Passion Saja Nggak CukupDunia seni dan industri kreatif punya cara kerja yang agak beda dari industri pada umumnya. Banyak pekerjaan datang berdasarkan proyek. Hari ini sibuk luar biasa, bulan depan bisa sepi. Ada yang kerja tetap, tapi banyak juga yang hidup sebagai freelancer, pekerja kontrak, atau berpindah dari satu proyek ke proyek berikutnya. Cara mencari orangnya juga unik. Di perusahaan besar biasanya ada lowongan, job description, interview, kontrak, sampai jenjang karier. Di dunia kreatif kadang prosesnya jauh lebih simpel: “Ada yang kenal 3D artist bagus?” “Butuh fotografer minggu depan, ada orang?” Lalu nama-nama mulai keluar dari grup WhatsApp, teman lama, komunitas, atau rekomendasi orang yang pernah kerja bareng. Pola seperti ini sering disebut spot recruitment. Orang direkrut ketika skill-nya sedang dibutuhkan. Makanya di dunia kreatif, ijazah dan CV bukan satu-satunya modal. Skill, portfolio, reputasi, pengalaman, dan networking sering jauh lebih menentukan. Passion Bisa Jadi Kekuatan, Bisa Juga Jadi Jebakan Salah satu bahan bakar terbesar pekerja seni adalahDunia seni dan industri kreatif punya cara kerja yang agak beda dari industri pada umumnya. Banyak pekerjaan datang berdasarkan proyek. Hari ini sibuk luar biasa, bulan depan bisa sepi. Ada yang kerja tetap, tapi banyak juga yang hidup sebagai freelancer, pekerja kontrak, atau berpindah dari satu proyek ke proyek berikutnya. Cara mencari orangnya juga unik. Di perusahaan besar biasanya ada lowongan, job description, interview, kontrak, sampai jenjang karier. Di dunia kreatif kadang prosesnya jauh lebih simpel: “Ada yang kenal 3D artist bagus?” “Butuh fotografer minggu depan, ada orang?” Lalu nama-nama mulai keluar dari grup WhatsApp, teman lama, komunitas, atau rekomendasi orang yang pernah kerja bareng. Pola seperti ini sering disebut spot recruitment. Orang direkrut ketika skill-nya sedang dibutuhkan. Makanya di dunia kreatif, ijazah dan CV bukan satu-satunya modal. Skill, portfolio, reputasi, pengalaman, dan networking sering jauh lebih menentukan. Passion Bisa Jadi Kekuatan, Bisa Juga Jadi Jebakan Salah satu bahan bakar terbesar pekerja seni adalah passion. Banyak orang memilih menjadi desainer, musisi, seniman, filmmaker, animator, fotografer, atau pekerja kreatif bukan hanya karena uang. Mereka memang suka dengan apa yang mereka kerjakan. Passion membuat orang mau belajar bertahun-tahun. Rela mengulang karya berkali-kali. Mau terus meningkatkan skill meskipun tidak ada yang menyuruh. Tapi passion juga punya sisi problematik. Karena dianggap bekerja berdasarkan passion, pekerja kreatif kadang dianggap wajar kalau bekerja sampai malam, revisi berkali-kali, dibayar murah, atau mengorbankan waktu pribadi. Padahal suka sama pekerjaan bukan berarti harus mau dieksploitasi. Pekerja seni tetap manusia. Mereka punya kebutuhan hidup, keluarga, kesehatan, waktu istirahat, dan masa depan. Jadi passion penting, tapi harus tetap berjalan bersama profesionalitas dan kesejahteraan. Banyak orang memilih menjadi desainer, musisi, seniman, filmmaker, animator, fotografer, atau pekerja kreatif bukan hanya karena uang. Mereka memang suka dengan apa yang mereka kerjakan. Passion membuat orang mau belajar bertahun-tahun. Rela mengulang karya berkali-kali. Mau terus meningkatkan skill meskipun tidak ada yang menyuruh. Tapi passion juga punya sisi problematik. Karena dianggap bekerja berdasarkan passion, pekerja kreatif kadang dianggap wajar kalau bekerja sampai malam, revisi berkali-kali, dibayar murah, atau mengorbankan waktu pribadi. Padahal suka sama pekerjaan bukan berarti harus mau dieksploitasi. Pekerja seni tetap manusia. Mereka punya kebutuhan hidup, keluarga, kesehatan, waktu istirahat, dan masa depan. Jadi passion penting, tapi harus tetap berjalan bersama profesionalitas dan kesejahteraan. Lanjut -----Part 2 https://www.nusantaramahayatra.com/forum/seni/mengelola-orang-di-dunia-kreatif-antara-passion-profesionalitas-dan-ai-part-2-6363f8 #seni #kreatif

WiyanWiyan7 hari yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Mengelola Orang di Dunia Kreatif: Antara Passion, Profesionalitas, dan AI --- PART 2

Ketika Seniman Ketemu Dunia Industri Ada orang yang secara artistik luar biasa. Skill-nya tinggi, taste-nya kuat, dan hasil karyanya bagus. Tapi ketika masuk ke industri, persoalannya bisa berbeda. Ada deadline. Ada revisi. Ada brief yang berubah. Ada template. Ada klien. Ada budget. Ada target produksi. Kadang sesuatu yang pagi sudah approved, sore kembali lagi ke versi pertama. Sebuah tradisi industri kreatif yang tampaknya diwariskan turun-temurun. Di sinilah skill artistik bertemu dengan adaptabilitas dan profesionalitas. Jadi ketika seorang seniman atau pekerja kreatif kesulitan bekerja dalam sistem industri, masalahnya belum tentu karena dia “susah diatur”. Bisa jadi persoalannya ada pada komunikasi, budaya kerja, sistem organisasi, cara mengelola orang kreatif, atau kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Soal Bayaran Juga Rumit Pertanyaan berikutnya adalah: bisakah pekerja seni punya standar bayaran? Masalahnya, dunia seni sangat luas. Cara menghitung pekerjaan pembatik tentu berbeda dengan 3D artist. Musisi berbeda dengan fotografer. Penari berbeda dengan teknisi panggung. Begitu juga MC, ilustrator, animator, filmmaker, dan profesi kreatif lainnya. Skill, pengalaman, waktu kerja, tanggung jawab, dan tingkat kesulitannya berbeda. Karena itu, mungkin sulit membuat satu standar upah untuk semua pekerja seni. Yang lebih realistis adalah membuat standar berdasarkan bidang dan tingkat kompetensi. Misalnya standar bayaran 3D artist berdasarkan level junior, middle, dan senior. Begitu juga fotografer, musisi event, pekerja panggung, animator, dan profesi lainnya. Setidaknya ada benchmark. Jadi harga jasa kreatif tidak terus ditentukan dengan metode ekonomi paling purba: “Budget-nya segini, bisa nggak?” Networking Itu Bagian dari Karier Karier di dunia seni juga tidak selalu berjalan lurus. Banyak pekerja kreatif justru berkembang melalui komunitas, mentoring, pengalaman proyek, pertemanan profesional, dan belajar langsung di lapangan. Hari ini seseorang menjadi junior designer. Beberapa tahun kemudian menjadi art director. Setelah itu mungkin membuat studio sendiri. Atau malah pindah ke film, game, teknologi, atau bidang lain yang sebelumnya tidak pernah direncanakan. Karena itu, salah satu kemampuan penting pekerja kreatif adalah adaptasi. Teknologi berubah. Tren berubah. Cara produksi berubah. Bahkan jenis pekerjaan juga berubah. Dan sekarang perubahan itu semakin cepat karena ada AI nya.

WiyanWiyan7 hari yang lalu0
1
Seni & Kreatif

Seni Modern: Ketika Pisang Dilakban Bisa Jadi Karya Seni

Belakangan ini viral di museum seni modern dan kontemporer, kadang kita dibuat bingung: Ada pisang dilakban ke tembok, Comedian karya Maurizio Cattelan. Ada kotak sabun Brillo ditumpuk, karya Andy Warhol. Ada urinoir dipajang sebagai Fountain karya Marcel Duchamp. Bahkan Piero Manzoni pernah mengemas sesuatu yang diklaim sebagai kotorannya sendiri ke dalam kaleng lewat Artist’s Shit. Dan semua itu masuk dunia seni, dipamerkan, dibicarakan, bahkan bernilai mahal. “Serius, ini seni?” Absurd? Bisa jadi. Tapi justru di situlah masalahnya. Dalam Theories of Art Today yang diedit Noël Carroll, definisi seni memang menjadi perdebatan. Dulu seni sangat dekat dengan keindahan, estetika, keterampilan, dan sesuatu yang enak dinikmati. Seniman dianggap harus punya kemampuan khusus untuk menciptakan sesuatu yang indah dan bernilai. Tapi seni modern punya defenisi yang lebih berbeda lagi saat ini. Pengaruh pemikiran Ludwig Wittgenstein, yang kemudian berkembang dalam pemikiran Morris Weitz, membuat definisi seni yang terlalu kaku mulai dipertanyakan. Seni tidak harus selalu indah. Tidak harus rumit. Bahkan tidak harus selalu nyaman dilihat. Dari sini, konsep menjadi semakin penting. Sebuah karya tidak harus indah atau rumit secara teknis. Yang ditawarkan seniman bisa berupa gagasan, makna, pertanyaan, atau kritik. Seni tidak lagi hanya menjadi sesuatu untuk dilihat, tetapi juga sesuatu untuk dipikirkan. Lalu apakah berarti semua benda bisa disebut seni? Tidak otomatis. Pemikiran Arthur Danto tentang artworld dan George Dickie tentang teori institusional menunjukkan pentingnya konteks dunia seni. Seniman, galeri, museum, kurator, publik, dan institusi ikut berperan dalam bagaimana sebuah objek dihadirkan dan dipahami sebagai karya. Jadi pertanyaan dan deffenisi tentang seni hari ini mulai bergeser. Bukan cuma “Apakah ini indah?”, tetapi “Apa konsepnya, apa maknanya, dan kenapa ini dihadirkan sebagai seni?” Karena seni hari ini tidak selalu hadir untuk memanjakan mata. Kadang seni justru hadir untuk mengganggu pikiran.#seni #sains #desain

WiyanWiyan8 hari yang lalu1
2
Seni & Kreatif

Menelusuri Perjalanan Dialektika Filsafat Seni Abad ke-20

Chpt 1 Introduction Ada satu pertanyaan yang terus bikin filsuf seni ribut sepanjang abad ke-20: Sebenarnya, apa yang membuat sesuatu bisa disebut seni? Kelihatannya sederhana. Tapi ternyata jawabannya jauh dari sederhana. Pada awal abad ke-20, para filsuf masih cukup percaya diri bahwa seni bisa didefinisikan. Clive Bell melihat seni dari sisi bentuk atau form. R. G. Collingwood melihat seni sebagai ekspresi. Intinya, mereka masih percaya bahwa karya seni punya karakter tertentu yang bisa ditemukan, lalu dirumuskan menjadi definisi. Tapi memasuki pertengahan abad ke-20, kepercayaan itu mulai digoyang. Di bawah pengaruh Ludwig Wittgenstein, muncul filsuf seperti Morris Weitz, William Kennick, dan Paul Ziff yang mulai skeptis. Mereka mempertanyakan satu hal penting: memangnya seni bisa dikunci dalam satu definisi? Mereka menolak gagasan bahwa seni harus punya syarat perlu dan cukup (necessary and sufficient conditions) yang berlaku untuk semua karya. Bahkan, skeptisisme ini cukup kuat sampai proyek mencari definisi seni seperti kena tombol pause selama kurang lebih satu dekade. Morris Weitz menjadi salah satu tokoh penting dalam perdebatan ini. Ia membawa dua gagasan utama: open concept dan family resemblance. Lewat open concept, Weitz melihat seni sebagai praktik yang selalu terbuka terhadap perubahan. Seni terus berkembang. Seniman selalu bisa membuat sesuatu yang baru, melakukan eksperimen, bahkan membongkar aturan yang sebelumnya dianggap normal. Jadi masalahnya begini: kalau seni terus berubah, bagaimana mungkin kita membuat definisi yang kaku? Bagi Weitz, definisi semacam itu justru berisiko membatasi sifat seni yang selalu terbuka terhadap kebaruan. Lalu muncul gagasan kedua: family resemblance, atau kemiripan keluarga. Menurut pendekatan ini, kita tidak perlu mencari satu sifat yang dimiliki semua karya seni. Kita mengenali sesuatu sebagai seni karena melihat adanya jaringan kemiripan dengan karya-karya yang sebelumnya sudah dianggap sebagai seni. Mirip keluarga. Tidak semua anggota keluarga punya wajah yang sama. Tapi ada kemiripan tertentu yang membuat kita bisa melihat hubungan di antara mereka. Begitu juga dengan karya seni. Kelihatannya masuk akal. Tapi Noël Carroll melihat ada masalah. Pertama, Weitz dianggap mencampuradukkan antara karya seni (artwork) dengan praktik seni (practice of art). Praktik seni memang selalu terbuka. Cara manusia membuat seni bisa berubah dari generasi ke generasi. Tapi itu tidak otomatis berarti karya seni yang sudah selesai tidak mungkin memiliki syarat tertentu untuk disebut seni. Dengan kata lain: praktik seni boleh terus berubah, tapi itu tidak otomatis membuat definisi seni menjadi mustahil. Kemunculan teori Arthur Danto dan George Dickie kemudian menunjukkan bahwa syarat perlu dan cukup masih mungkin dirumuskan tanpa harus membatasi kreativitas seniman. Masalah kedua datang dari family resemblance. Kalau seni hanya ditentukan berdasarkan kemiripan, batasnya bisa terlalu longgar. Karena faktanya, hampir semua benda di dunia bisa punya kemiripan dengan benda lain dalam aspek tertentu. Kursi bisa mirip patung. Batu bisa mirip instalasi. Kardus bisa mirip karya konseptual. Kalau semua kemiripan diterima tanpa batas yang jelas, muncul masalah yang disebut “here comes everything.” Sederhananya: kalau kriterianya terlalu longgar, semuanya bisa masuk. Dan kalau semuanya bisa disebut seni, kita kembali punya masalah: lalu apa yang membedakan seni dengan yang bukan seni? Maurice Mandelbaum kemudian mengkritik gagasan kemiripan keluarga ini dari arah lain. Menurutnya, kemiripan keluarga bukan sekadar soal apa yang terlihat. Orang disebut satu keluarga bukan hanya karena wajah atau hidung mereka mirip. Ada hubungan genetis dan latar belakang yang menghubungkan mereka. Dari sinilah pembahasan filsafat seni mulai bergeser. Para filsuf mulai berhenti hanya mencari sifat yang kelihatan pada objek atau manifest properties. Mereka mulai melihat sesuatu yang tidak selalu terlihat langsung: konteks, sejarah, hubungan, dan latar belakang sebuah karya. Pergeseran ini kemudian menjadi penting dalam pemikiran Arthur Danto. Danto menggunakan persoalan indiscernibles, yaitu dua benda yang secara visual sulit dibedakan tetapi memiliki status berbeda. Contoh terkenalnya adalah Brillo Box karya Andy Warhol dan kotak Brillo biasa di supermarket. Secara visual, keduanya bisa terlihat sama. Tapi kenapa yang satu disebut karya seni, sementara yang lain cuma kotak produk? Nah, di sinilah masalahnya. Kalau bentuk fisiknya hampir sama, berarti penampilan saja tidak cukup untuk menjelaskan kenapa sesuatu disebut seni. Menurut Danto, kita harus melihat sejarahnya, teori seni yang melatarinya, dan makna yang diwujudkan dalam karya atau embodiment of meaning. Pertanyaannya kemudian bergeser. Bukan lagi cuma: “Benda ini terlihat seperti apa?” Tetapi: “Benda ini hadir dalam konteks apa, dan membawa makna apa?” George Dickie kemudian bergerak melalui Teori Institusional Seni. Menurut pendekatan ini, status karya seni juga berkaitan dengan dunia sosial seni atau artworld: seniman, kurator, museum, galeri, kritikus, dan institusi yang membentuk praktik seni. Jadi untuk memahami kenapa sesuatu menjadi seni, melihat bendanya saja belum cukup. Kita juga harus melihat sistem yang mengelilinginya. Setelah skeptisisme pertengahan abad mulai runtuh, diskusi tentang definisi seni kembali terbuka. Berys Gaut menawarkan cluster concept. Seni tidak harus memiliki satu syarat tunggal yang wajib dimiliki semua karya. Sebaliknya, ada kumpulan kriteria yang dapat bekerja secara disjungtif. Robert Stecker mencoba melihat seni melalui kombinasi fungsi, sejarah, niat seniman, dan institusi seni. James C. Anderson kembali mengembangkan definisi estetis melalui apresiasi estetis. Perdebatan kemudian semakin luas. Joseph Margolis melihat karya seni sebagai entitas budaya yang muncul melalui proses enkulturasi. Marcia Muelder Eaton mencoba memperbaiki definisi seni agar tidak terjebak bias Eurosentris. George Bailey membahas hak dan tanggung jawab sosial karya seni. Peg Zeglin Brand mengkritik kanon sejarah seni yang berbias patriarki. Sementara Stephen Davies dan Denis Dutton membawa pembahasan menuju seni non-Barat dan tribal art dalam kerangka lintas budaya. Jadi, perjalanan filsafat seni abad ke-20 menunjukkan satu perubahan besar. Awalnya filsuf sibuk mencari apa yang ada di dalam karya seni. Lalu muncul pertanyaan apakah seni bahkan mungkin didefinisikan. Setelah itu, pembahasannya bergeser lebih jauh: seni ternyata tidak cukup dipahami hanya dari bentuk bendanya, tetapi juga melalui konteks, sejarah, relasi sosial, institusi, budaya, dan makna. Dan pertanyaan “apa itu seni?” ternyata tidak pernah benar-benar selesai. Semakin manusia mencoba membuat batas yang rapi tentang seni, semakin muncul karya yang membuat batas itu kembali dipertanyakan. Mungkin justru itu yang membuat perdebatan tentang seni terus hidup.

WiyanWiyan9 hari yang lalu0
0
Halaman 2 dari 2