CINTA ITU PRODUK SASTRA, BUKAN FITRAH MANUSIA
Romantisme cinta itu produk Narasi yang Dibuat oleh Sastrawan, pujangga, seniman dan kemudian di anut oleh Semua Orang. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta itu suci, indah, dan penuh getar-getar emosional. Tapi tidak banyak yang sadar bahwa konsep cinta seperti itu bukan warisan purba tapi hanya produk fiksi, Cinta itu bukanlah naluri alami, bukan fitrah. Cinta romantis seperti yang kita kenal hari ini adalah hasil karya Fiksi dari para sastrawan, bukan fakta biologis. Di masa sebelum abad pertengahan, tidak ada yang menikah karena cinta. Pernikahan adalah kontrak. Aliansi politik. Perjanjian ekonomi antarkeluarga. Cinta hanyalah bonus, dan jarang ada. Bahkan dianggap membahayakan stabilitas sosial. Narasi romantisme tentang cinta baru di Abad Pertengahan, lewat puisi-puisi cinta para penyair, muncul narasi-narasi romantis: tentang dua jiwa yang saling merindukan, tentang cinta yang menembus batas kasta, bahkan tentang kehidupan dan kematian demi cinta. Fiksi ini meledak di Eropa, dan perlahan menjadi budaya populer. Kita diwarisi oleh dongeng, bukan realitas. Itu sebabnya, hari ini banyak orang laki-laki dan perempuan mengaku menjalin hubungan karena cinta. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka saling tertarik karena imajinasi satu sama lain. Belum tidur bersama saja. Belum tahu kenyataan di balik layar. Yang mereka cintai adalah fantasi tentang pasangan mereka, bukan orangnya. Dan setelah seks terjadi? Banyak dari mereka tidak mencari koneksi emosional yang lebih dalam. Mereka hanya ingin mengulang sensasinya. Rasa cinta berubah jadi rutinitas biologis. Kecanduan. Ego. Kadang posesif. Over protektif, dan kadang bosan. Karena memang sejak awal, yang disebut "cinta" itu cuma fiksi. Fiksi yang kita percayai karena dibungkus manis oleh narasi sastra dan budaya. Karena fiksi, kalau cukup sering diceritakan, bisa terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Banyak laki-laki dan perempuan yang bilang: “Aku mencintainya.” Tapi sebetulnya, mereka hanya sedang mabuk hormon, imajinasi, dan fantasi akan satu sama lain. Belum pernah benar-benar mengenal. Belum pernah menyentuh sisi paling rapuh. Dan yang paling penting: belum pernah berhubungan seks. Ketika hubungan itu akhirnya masuk ke ranah seksual, banyak hal berubah. Yang tadinya disebut “cinta” mulai mengelupas. Dan yang tersisa justru keinginan untuk melakukannya lagi bukan karena cinta yang makin dalam, tapi karena tubuh menginginkan sensasi yang sama. Setelah seks, barulah wajah asli hubungan itu muncul. Apakah kamu masih peduli ketika tidak lagi dibakar nafsu? Apakah kamu masih bisa bicara, menangis, atau diam bersama, tanpa imbalan fisik? Atau justru kamu sadar: bahwa kamu hanya “cinta” karena belum mendapatkannya? Cinta yang digembar-gemborkan sebelum seks, sering kali hanyalah ilusi sebelum kepuasan. Setelah tubuh terpuaskan, yang tersisa adalah dua kemungkinan: entah kamu menemukan koneksi yang nyata, atau kamu menyadari, “ternyata aku nggak cinta-cinta amat.” #cinta #seksual #sosial #nafsu #fiksi #narasi #romantisme #sosialpolitik