Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Sosial & Politik

Diskusi sosial, politik, kemasyarakatan, dan isu kebangsaan Nusantara.

Sosial & Politik

CINTA ITU PRODUK SASTRA, BUKAN FITRAH MANUSIA

Romantisme cinta itu produk Narasi yang Dibuat oleh Sastrawan, pujangga, seniman dan kemudian di anut oleh Semua Orang. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta itu suci, indah, dan penuh getar-getar emosional. Tapi tidak banyak yang sadar bahwa konsep cinta seperti itu bukan warisan purba tapi hanya produk fiksi, Cinta itu bukanlah naluri alami, bukan fitrah. Cinta romantis seperti yang kita kenal hari ini adalah hasil karya Fiksi dari para sastrawan, bukan fakta biologis. Di masa sebelum abad pertengahan, tidak ada yang menikah karena cinta. Pernikahan adalah kontrak. Aliansi politik. Perjanjian ekonomi antarkeluarga. Cinta hanyalah bonus, dan jarang ada. Bahkan dianggap membahayakan stabilitas sosial. Narasi romantisme tentang cinta baru di Abad Pertengahan, lewat puisi-puisi cinta para penyair, muncul narasi-narasi romantis: tentang dua jiwa yang saling merindukan, tentang cinta yang menembus batas kasta, bahkan tentang kehidupan dan kematian demi cinta. Fiksi ini meledak di Eropa, dan perlahan menjadi budaya populer. Kita diwarisi oleh dongeng, bukan realitas. Itu sebabnya, hari ini banyak orang laki-laki dan perempuan mengaku menjalin hubungan karena cinta. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah mereka saling tertarik karena imajinasi satu sama lain. Belum tidur bersama saja. Belum tahu kenyataan di balik layar. Yang mereka cintai adalah fantasi tentang pasangan mereka, bukan orangnya. Dan setelah seks terjadi? Banyak dari mereka tidak mencari koneksi emosional yang lebih dalam. Mereka hanya ingin mengulang sensasinya. Rasa cinta berubah jadi rutinitas biologis. Kecanduan. Ego. Kadang posesif. Over protektif, dan kadang bosan. Karena memang sejak awal, yang disebut "cinta" itu cuma fiksi. Fiksi yang kita percayai karena dibungkus manis oleh narasi sastra dan budaya. Karena fiksi, kalau cukup sering diceritakan, bisa terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Banyak laki-laki dan perempuan yang bilang: “Aku mencintainya.” Tapi sebetulnya, mereka hanya sedang mabuk hormon, imajinasi, dan fantasi akan satu sama lain. Belum pernah benar-benar mengenal. Belum pernah menyentuh sisi paling rapuh. Dan yang paling penting: belum pernah berhubungan seks. Ketika hubungan itu akhirnya masuk ke ranah seksual, banyak hal berubah. Yang tadinya disebut “cinta” mulai mengelupas. Dan yang tersisa justru keinginan untuk melakukannya lagi bukan karena cinta yang makin dalam, tapi karena tubuh menginginkan sensasi yang sama. Setelah seks, barulah wajah asli hubungan itu muncul. Apakah kamu masih peduli ketika tidak lagi dibakar nafsu? Apakah kamu masih bisa bicara, menangis, atau diam bersama, tanpa imbalan fisik? Atau justru kamu sadar: bahwa kamu hanya “cinta” karena belum mendapatkannya? Cinta yang digembar-gemborkan sebelum seks, sering kali hanyalah ilusi sebelum kepuasan. Setelah tubuh terpuaskan, yang tersisa adalah dua kemungkinan: entah kamu menemukan koneksi yang nyata, atau kamu menyadari, “ternyata aku nggak cinta-cinta amat.” #cinta #seksual #sosial #nafsu #fiksi #narasi #romantisme #sosialpolitik

WiyanWiyan6 hari yang lalu0
2
Sosial & Politik

Mengapa Semua Orang Ingin Menjadi Presiden?

Menjadi presiden bukan pekerjaan ringan. Bebannya besar, kritik datang dari segala arah, keputusan bisa menentukan nasib jutaan orang. Lalu mengapa begitu banyak orang ingin berada di kursi itu? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu. Ada yang ingin menjadi presiden karena ingin mengubah negara. Ada yang merasa memiliki gagasan yang lebih baik. Ada yang percaya dirinya mampu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Tetapi mari kita jujur. Apakah semua orang mengejar kursi presiden hanya karena ingin mengabdi? Kekuasaan memiliki daya tariknya sendiri, menjadi presiden berarti memiliki kewenangan besar untuk menentukan arah negara. Kebijakan yang dibuat dapat memengaruhi ekonomi, pendidikan, hukum, keamanan, bahkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Jabatan itu juga membawa sesuatu yang tidak kalah besar “pengaruh” Nama dikenal, keputusan didengar, pernyataan menjadi berita, satu tanda tangan dapat mengubah arah sebuah kebijakan. Maka mungkin persoalannya bukan sekadar mengapa seseorang ingin menjadi presiden. Persoalannya adalah: Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari kekuasaan itu? Apakah ingin meninggalkan warisan? Apakah ingin membuktikan diri? Apakah ingin memperbaiki keadaan? Atau justru ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki kekuasaan yang begitu besar? Kita tidak selalu bisa mengetahui jawabannya, sebab ambisi politik bisa lahir dari dua hal yang sangat berbeda keinginan untuk melayani dan keinginan untuk berkuasa. Keduanya bahkan bisa hidup berdampingan dalam diri seseorang. Dan di sinilah masyarakat memiliki peran penting. Jangan hanya terpukau oleh pidato, jangan hanya melihat popularitas, jangan hanya memilih karena nama besar atau citra yang dibangun. Tanyakan sesuatu yang lebih sederhana: Jika seseorang benar-benar ingin menjadi Presiden, untuk siapa kekuasaan itu nantinya digunakan? Sebab masalah terbesar bukanlah ketika seseorang ingin menjadi Presiden. Masalahnya adalah ketika kekuasaan menjadi tujuan, sementara rakyat hanya dijadikan jalan untuk mencapainya. Pada akhirnya, menjadi presiden bukan tentang seberapa besar seseorang menginginkan kursinya. Tetapi tentang seberapa besar ia bersedia memikul tanggung jawab setelah mendapatkannya. Karena kursi kekuasaan bisa dikejar dengan ambisi.Tetapi kepercayaan rakyat harus diperjuangkan dengan tanggung jawab. #sosialpolitik #sosial-politik

MMentari Senja4 hari yang lalu0
1
Sosial & Politik

MASALAH INDONESIA BUKAN KURANG ORANG PINTAR, TAPI ORANG PINTAR SERING KALAH SAMA ORANG DALAM

Mungkin masalah terbesar Indonesia bukan kekurangan orang pintar, tetapi terlalu lama memaklumi ketidakmampuan. Orang kompeten dibilang sok pintar, orang tegas dianggap arogan, sementara orang yang tidak menguasai persoalan tetapi ramah, merakyat, dan pandai memainkan emosi justru gampang mendapat panggung. Kita bangga kepada Borobudur, Majapahit, Sriwijaya, nenek moyang pelaut, dan kejayaan Nusantara, tetapi sering hanya mewarisi romantismenya, bukan kompetensi yang membuat peradaban itu bisa berdiri. Lalu ketika tertinggal, kita punya alasan paling nyaman: kolonialisme, asing, pemerintah, sistem, elite, sejarah. Semua itu memang punya kontribusi terhadap masalah kita, tetapi kalau puluhan tahun setelah merdeka kita masih terus memosisikan diri sebagai korban, kapan kita mulai bertanggung jawab atas diri sendiri? Kolonialismenya sudah pergi, jangan sampai mental korbannya justru kita rawat. Kita perlu bergeser dari victim mentality menuju hero mentality: berhenti menunggu “Ratu Adil”, berhenti meng-outsource semua persoalan kepada pemerintah, dan mulai membangun manusia yang mampu berpikir, membaca, mempertanyakan, menciptakan, dan menyelesaikan masalah. Pendidikan itu bahkan harus dimulai dari rumah. Jangan terlalu bangga anak bisa memakai AI kalau membaca satu halaman saja tidak paham isinya. Literasi bukan sekadar bisa mengeja, tetapi mampu memahami informasi, membedakan fakta dan opini, membaca sebab-akibat, serta skeptis terhadap omong kosong. Cara kita melihat masalah juga harus berubah banjir, kemiskinan, krisis, kegagalan sistem, dan berbagai risiko jangan terus diperlakukan seperti “takdir” yang baru diributkan setelah korban berjatuhan. Masyarakat kompeten belajar memahami sistem sebelum masalah datang. Begitu juga dengan diaspora. Tidak perlu memaksa semua orang Indonesia hebat di luar negeri untuk pulang hanya demi membuktikan nasionalisme. Biarkan ilmuwan kita masuk laboratorium terbaik dunia, engineer kita memimpin teknologi global, seniman kita menembus institusi internasional, dan pengusaha kita membangun perusahaan kelas dunia. Nasionalisme abad ke-21 tidak cukup diukur dari di mana Anda tinggal, tetapi apa yang mampu Anda hasilkan. Karena Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya dengan semakin banyak slogan cinta tanah air, upacara, romantisme sejarah, atau teriakan kejayaan Nusantara. Negara maju dibangun oleh manusia kompeten. Jadi mungkin kita harus berhenti bertanya seberapa bangga kita menjadi orang Indonesia, dan mulai bertanya sesuatu yang lebih menyakitkan: apa yang sudah kita hasilkan sehingga Indonesia pantas dibanggakan?

Loka mataLoka mata5 hari yang lalu0
2
Sosial & Politik

PART 2 : Perang berikutnya bukan GPU, tetapi inference dan Memori

Selama awal ledakan AI, perhatian tertuju pada training proses melatih model dengan data dalam jumlah luar biasa besar. Kini medan perang mulai bergeser ke inference. Setiap kali seseorang meminta AI membuat gambar, merangkum dokumen, menerjemahkan bahasa, menjalankan AI agent atau menjawab pertanyaan, pusat data harus melakukan komputasi. Jika miliaran orang menggunakan AI setiap hari, biaya terbesar bukan lagi hanya membuat modelnya. Biayanya adalah menjalankan model tersebut terus-menerus. Karena itu perusahaan mulai mencari chip yang lebih murah dan hemat energi untuk inference. Bahkan muncul pendekatan baru seperti accelerator yang mengintegrasikan memori lebih dekat dengan komputasi. d-Matrix, misalnya, memperkenalkan arsitektur yang menggabungkan accelerator dengan DRAM secara 3D dan mengklaim bandwidth hingga 100 TB/s per kartu. Satu komponen yang sering dilupakan: memori GPU tanpa memori berkecepatan tinggi tidak akan optimal. Karena itu HBM atau High Bandwidth Memory menjadi salah satu komponen paling strategis dalam AI. Samsung, SK hynix dan Micron berlomba memasok HBM untuk accelerator AI. Ketika permintaan AI meningkat, persaingan tidak hanya terjadi di antara pembuat GPU, tetapi juga di antara perusahaan pembuat memori dan advanced packaging. Bahkan NVIDIA kini mengembangkan NVHBM, dengan klaim peningkatan bandwidth hingga 30% dan konsumsi daya 15% lebih rendah dibanding pendekatan HBM4E tertentu. Dengan kata lain, AI bukan hanya perang silicon. AI adalah perang seluruh rantai semikonduktor.

Fania MeyandraFania Meyandrasekitar 11 jam yang lalu0
2
Sosial & Politik

Berapa Banyak Lagi yang Harus Sakit demi MBG?

Program yang katanya untuk menyehatkan anak justru berulang kali membuat mereka sakit. Lalu sampai kapan kita akan menyebutnya “evaluasi”? Makan Bergizi Gratis dibuat dengan satu tujuan yang terdengar sangat sederhana: memberikan makanan bergizi kepada masyarakat, terutama anak-anak. Tujuannya baik, tetapi pertanyaannya bukan lagi apakah tujuannya baik. Pertanyaannya: apakah pelaksanaannya sudah cukup aman? Ketika makanan yang dibagikan oleh sebuah program negara menyebabkan keracunan, kita mungkin masih bisa menyebutnya kesalahan. Ketika kasus kembali terjadi, kita bisa mengatakan perlu perbaikan. Tetapi ketika kejadian serupa terus berulang, tersebar di berbagai daerah, dan jumlah korbannya terus bertambah, kita harus mulai berani mengatakan sesuatu yang lebih keras: Mungkin masalahnya bukan lagi sekadar kesalahan. Mungkin ada yang salah dalam sistemnya. Namun setiap kali masalah muncul, jawaban yang terdengar kembali berkisar pada evaluasi, perbaikan SOP, pengawasan, dan penutupan dapur yang bermasalah. Semua itu penting, tetapi ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita hindari: Berapa banyak orang yang harus sakit sebelum keselamatan menjadi alasan untuk menghentikan sementara program? Ini bukan soal anti-MBG, juga bukan soal menolak hak anak mendapatkan makanan bergizi. Justru karena makanan itu diberikan kepada anak-anak, standar keamanannya seharusnya jauh lebih tinggi. Kita tidak sedang membagikan brosur, kita sedang memasukkan makanan ke tubuh manusia. Dan ketika terjadi kesalahan, konsekuensinya bukan sekadar angka di laporan evaluasi. Yang sakit adalah anak-anak, yang panik adalah orang tua, yang harus dibawa ke fasilitas kesehatan adalah manusia. Maka jangan sampai keberhasilan MBG hanya diukur dari berapa juta porsi yang berhasil dibagikan. Apa gunanya jutaan porsi tersalurkan jika sebagian di antaranya justru membuat penerimanya sakit? Program sebesar ini tidak boleh mengejar kuantitas dengan mengorbankan keselamatan. Pemerintah tentu memiliki alasan untuk mempertahankan MBG. Program ini memiliki tujuan sosial yang besar dan penerimanya sangat banyak. Tetapi tujuan besar bukan berarti kebal terhadap kritik. Niat baik bukan kartu bebas kesalahan. Dan semakin besar anggaran, semakin luas cakupan, serta semakin banyak penerima manfaat, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap prosesnya benar-benar aman. Mungkin pertanyaan yang selama ini salah. Kita terus bertanya: “Apakah MBG harus dihentikan?” Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah MBG sudah cukup aman untuk terus berjalan?” Jika jawabannya belum, maka memperlambat, menghentikan sementara di wilayah bermasalah, atau memperbaiki sistem bukan berarti menyerah pada program. Itu berarti pemerintah serius melindungi penerima manfaatnya, karena sebuah program tidak seharusnya dinilai hanya dari seberapa cepat ia berjalan. Program yang benar-benar berhasil adalah program yang manfaatnya sampai kepada masyarakat tanpa membuat mereka mempertaruhkan keselamatan. Dan kalau makanan yang seharusnya membuat anak sehat justru membuat mereka sakit, kita tidak boleh takut mengajukan pertanyaan yang paling tidak nyaman: Berapa banyak lagi yang harus keracunan sebelum kita berhenti menyebutnya sebagai sekadar “evaluasi”? #sosialpolitik #sosial-politik

CamaroCamarosekitar 17 jam yang lalu0
1
Halaman 1 dari 3