MASALAH INDONESIA BUKAN KURANG ORANG PINTAR, TAPI ORANG PINTAR SERING KALAH SAMA ORANG DALAM
Mungkin masalah terbesar Indonesia bukan kekurangan orang pintar, tetapi terlalu lama memaklumi ketidakmampuan. Orang kompeten dibilang sok pintar, orang tegas dianggap arogan, sementara orang yang tidak menguasai persoalan tetapi ramah, merakyat, dan pandai memainkan emosi justru gampang mendapat panggung. Kita bangga kepada Borobudur, Majapahit, Sriwijaya, nenek moyang pelaut, dan kejayaan Nusantara, tetapi sering hanya mewarisi romantismenya, bukan kompetensi yang membuat peradaban itu bisa berdiri. Lalu ketika tertinggal, kita punya alasan paling nyaman: kolonialisme, asing, pemerintah, sistem, elite, sejarah. Semua itu memang punya kontribusi terhadap masalah kita, tetapi kalau puluhan tahun setelah merdeka kita masih terus memosisikan diri sebagai korban, kapan kita mulai bertanggung jawab atas diri sendiri? Kolonialismenya sudah pergi, jangan sampai mental korbannya justru kita rawat. Kita perlu bergeser dari victim mentality menuju hero mentality: berhenti menunggu “Ratu Adil”, berhenti meng-outsource semua persoalan kepada pemerintah, dan mulai membangun manusia yang mampu berpikir, membaca, mempertanyakan, menciptakan, dan menyelesaikan masalah. Pendidikan itu bahkan harus dimulai dari rumah. Jangan terlalu bangga anak bisa memakai AI kalau membaca satu halaman saja tidak paham isinya. Literasi bukan sekadar bisa mengeja, tetapi mampu memahami informasi, membedakan fakta dan opini, membaca sebab-akibat, serta skeptis terhadap omong kosong. Cara kita melihat masalah juga harus berubah banjir, kemiskinan, krisis, kegagalan sistem, dan berbagai risiko jangan terus diperlakukan seperti “takdir” yang baru diributkan setelah korban berjatuhan. Masyarakat kompeten belajar memahami sistem sebelum masalah datang. Begitu juga dengan diaspora. Tidak perlu memaksa semua orang Indonesia hebat di luar negeri untuk pulang hanya demi membuktikan nasionalisme. Biarkan ilmuwan kita masuk laboratorium terbaik dunia, engineer kita memimpin teknologi global, seniman kita menembus institusi internasional, dan pengusaha kita membangun perusahaan kelas dunia. Nasionalisme abad ke-21 tidak cukup diukur dari di mana Anda tinggal, tetapi apa yang mampu Anda hasilkan. Karena Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya dengan semakin banyak slogan cinta tanah air, upacara, romantisme sejarah, atau teriakan kejayaan Nusantara. Negara maju dibangun oleh manusia kompeten. Jadi mungkin kita harus berhenti bertanya seberapa bangga kita menjadi orang Indonesia, dan mulai bertanya sesuatu yang lebih menyakitkan: apa yang sudah kita hasilkan sehingga Indonesia pantas dibanggakan?